Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Saya Pro Air Susu Ibu

leave a comment »

Tanggal 1 Agustus sampai dengan 8 Agustus setiap tahunnya merupakan pekan yang unik. Mengapa? Karena satu pekan itu seluruh masyarakat dunia memperingatinya sebagai Pekan ASI sedunia. Sebagai organisasi yang berfokus pada anak, kantor tempat saya bekerja pun turut memperingati pekan ASI sedunia.

Dalam kesempatan peringatan pekan ASI sedunia tadi di kantor, beberapa pencerahan saya dapatkan. Secara khusus saya mendapatkan fakta mengejutkan yaitu rendahnya angka anak yang menerima ASI eksklusif di Indonesia, yaitu sebesar 15,3 persen. Ini jauh lebih rendah dari prosentase secara global yang juga hanya 32,6 persen.

Ini temuan yang cukup memprihatinkan. Beragam kajian membuktikan bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI bukan sekedar makanan, tetapi juga penyelamat kehidupan. Setiap tahun, lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan 1,3 juta bayi di seluruh dunia dapat diselamatkan dengan pemberian ASI eksklusif. Bahkan, kajian WHO terhadap lebih dari 3000 penelitian menunjukkan, pemberian ASI selama 6 bulan adalah jangka waktu yang paling optimal untuk pemberian ASI eksklusif. Hal ini karena ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bagi bayi untuk bertahan hidup pada 6 bulan pertama, mulai dari hormon, antibodi, faktor kekebalan hingga antioksidan (sumber: www.health.kompas.com).

Manfaat ASI eksklusif pun dapat dirasakan oleh ibu. Yaitu dapat menjarangkan kehamilan, mencegah resiko anemia, dan juga mencegah kanker.

Bagi keluarga, aktivitas menyusui merupakan sarana pengikat tali kekeluargaan. Dan tentu di tengah melonjaknya semua harga consumer goods, menyusui dapat menghemat pengeluaran keluarga.

Dan bagi perusahaan pun, pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi jumlah medical claim dari para working mothers. Selain itu dapat meminimalkan jumlah absen dari karyawan wanita yang sedang menyusui. Ini terkait dengan manfaat aktivitas menyusui bagi kesehatan ibu.

Namun intinya, menyusui bukanlah sekedar aktivitas memberi ASI semata. ASI adalah hak anak untuk mereka bisa tumbuh dan berkembang. Tidak hanya tumbuh karena mendapat cairan ASI, tetapi juga berkembang secara emosional dan kognitif.

Jika ASI adalah hak anak, dan juga memiliki manfaat yang multi dimensi, mengapa angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia sangatlah rendah? Bahkan negara tetangga Vietnam memiliki prosentase anak yang menerima ASI eksklusif lebih besar, dikarenakan pemerintah mereka telah membuat undang-undang yang menjamin hak cuti selama 6 bulan bagi ibu-ibu pekerja yang baru melahirkan. Cuti panjang ini tentu agar proses minimal ASI eksklusif selama 6 bulan dapat tergaransi.

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa angka pemberian ASI eksklusif di negara yang kita cintai sangatlah rendah? Berdasarkan informasi yang tadi saya dapatkan, penyebabnya adalah ITIK. Apa yang dimaksud ITIK?

  • (I)nformasi tentang manfaat ASI tidak memadai. Belum ada sosialisasi yang menjaring kelompok masyarakat menengah ke bawah dengan cara-cara yang komprehensif dan berkelanjutan.
  • (T)empat lahir dan kerja tidak mendukung pemberian ASI eksklusif. Beberapa rumah sakit bersalin bahkan tidak sayang anak. Alih-alih memfasilitasi ibu untuk langsung memberikan ASI eksklusif, tak sedikit rumah sakit yang disponsori produsen susu formula ini malah memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir. Demikian pula tempat kerja. Masih sangat sedikit perusahaan yang menyediakan ruang laktasi bagi ibu-ibu pekerja yang sedang menyusui. Bahkan saya mendapatkan informasi dari teman, ada ibu yang terpaksa memerah susu di bawah meja dikarenakan tidak ada ruangan yang memadai untuk itu.
  • (I)klan susu formula yang gencar. Di zaman informasi yang sedemikian canggih dan pula TV memegang peranan penting dalam distribusi informasi, iklan-iklan susu formula begitu gencar sehingga pada akhirnya seperti juruselamat satu-satunya bagi tumbuh kembang bayi. ASI dijadikan sebuah kegiatan yang kurang modern. Padahal semua mamalia ketika lahir pasti menyusu pada ibunya. Tetapi karena iklan susu formula, anak-anak yang seharusnya mendapat ASI, malah menyusu pada SAPI lewat susu formula.
  • (K)urang dukungan keluarga. Keluarga seharusnya lingkaran pertama yang memberikan lingkungan yang mendukung seorang ibu untuk menyusui anaknya secara eksklusif. Tak jarang malah keluarga menjadi penyebab ibu-ibu malu menyusui anaknya.

Gereja Dan Aksi PRO ASI

Sebagai warga gereja, saya masih melihat Aksi PRO ASI masih sangat jarang didengungkan di gereja. Padahal seharusnya mimbar gereja adalah sarana paling efektif untuk membentuk kesadaran jemaat terhadap manfaat ASI eksklusif. Menyusui sekali lagi adalah sebuah tindakan pemenuhan hak anak yang paling dasar. Sebagaimana Yesus menyambut anak-anak dengan tangan terbuka, semestinya pengikutNya yaitu orang-orang Kristen secara khusus, dan juga gereja secara umum, harus memastikan setiap anak yang ada di dalam gereja dijamin keterpenuhan hak-haknya, termasuk hak anak untuk mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya.

Bahkan terus terang, baru hari ini saya mengetahui informasi yang demikian komprehensif tentang ASI. Saya yang berada di gereja yang menurut saya sudah sangat pro anak, pun rasanya belum pernah mendapatkan informasi secara detil mengenai ASI.

Oleh karena itu dalam hemat saya, gereja sebagai agen perubah harus mulai mengagendakan isu ASI eksklusif untuk dibawa ke atas mimbar. Apakah kemudian ketika gereja mulai mengagendakan ini lalu perubahan akan terjadi? Bukankah pemerintah pun harus menyediakan landasan hukum yang pro terhadap pemberian ASI eksklusif, misalkan dengan mengeluarkan aturan main yang konstitusional dalam pemberian hak cuti minimal 6 bulan untuk ibu-ibu pekerja yang melahirkan?

Bagaimana pula dengan perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan ibu-ibu pekerja? Sudah seharusnya pula mereka menyediakan pelbagai sarana dan prasarana untuk aktivitas memerah ASI bagi para karyawannya yang sedang menyusui?

Ya, tentu tanggung jawab pemerintah dan juga perusahaan mutlak diperlukan. Bahkan tidak hanya gereja, institusi-institusi keagamaan yang lain pun harus secara pro aktif mulai mendengung-dengungkan kegiatan pemberian ASI eksklusif pada setiap anak.

Inilah pekerjaan rumah yang masih sangat panjang.

Saya meyakini perubahan selalu dimulai oleh individu-individu yang mendapatkan pembaharuan. Perubahan secara individual ini secara simultan akan menginspirasi perubahan dalam cakupan yang lebih besar yaitu secara komunal, dan juga pada akhirnya secara global.

Hari ini sebagai warga negara, pria Kristen, saya berikrar akan PRO terhadap ASI eksklusif minimal selama 6 bulan.

Semoga para pembaca, baik Kristen ataupun bukan, sebagai warga negara Indonesia, mari kita gaungkan kesadaran ini bahwa ASI merupakan investasi bagi anak-anak kita yang kelak akan membawa bangsa ini kepada perubahan yang lebih baik.

Salam PRO ASI!

 

Written by Rolan Sihombing

August 1, 2012 at 11:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: