Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Dari Kota Ke Desa: Awal Dari Semua Cerita Masa Depan

with one comment

Beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat, saya sedang melihat-lihat beberapa akun twitter milik selebritis Indonesia yang kebetulan saya follow. Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka menonton acara gosip dan mengikuti perkembangan selebritis, jadi kalau ditanya mengapa saya mengikuti akun twitter milik beberapa selebritis, dengan jujur saya akan pun bingung menjawabnya. Tetapi sebagai laki-laki normal, ini alasannya. Sederhana saja yaitu selebritis (wanita tentunya) yang saya follow, kebanyakan adalah artis-artis (sekali lagi saya tegaskan, artis-artis itu adalah wanita) yang menurut saya cantik dan karakter wajahnya sesuai selera saya. Contohnya adalah seperti berikut ini: 

Sumber: http://powerlogical.deviantart.com/art/Shinta-Rosari-Personnel-of-AiKO-300515556

..dan yang ini:

Foto yang pertama adalah Shinta Rosari, personel grup vokal AiKO dan juga presenter acara Kiss Pagi. Sedangkan yang kedua adalah Anita Mae, host acara Radio Show yang tayang di TV One. Kedua-duanya memiliki tipikal wajah yang saya sukai, yaitu ujung mata yang agak menyempit (sayang di foto itu Anita Mae agak sedikit “belo” karena di Radio Show matanya tidak sebelo itu), senyum lebar yang “membunuh”, dan juga tatap mata yang cerdas.

Kadang-kadang saya diam-diam berdoa supaya kelak calon istri saya berwajah kurang lebih seperti mereka, bersuara indah, cerdas, supel, dan senyumnya bisa menenangkan hati yang gundah setelah melakukan tugas sebagai pembela anak.

Tetapi itu hanya mimpi.

Aarrrghh, sepertinya tulisan ini mulai menyimpang.

Maafkan saya.

Mari kita lanjutkan.

Begini, di salah satu akun twitter milik artis-artis yang saya follow tersebut terdapat sebuah bio berbunyi seperti ini: Country girl rock the city, yang berarti gadis “kampung” menghebohkan kota. Tidak ada yang salah dengan bio seperti ini karena saya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi semua orang. Hanya ada sedikit rasa tergelitik ketika membaca bio seorang artis tersebut.

Mengapa? Karena dalam waktu yang tidak lama lagi, saya akan melakukan yang ditulis artis tersebut secara terbalik, yaitu city man (saya masih yakin kalau saya laki-laki) rock the country, atau cowok (saya sangat yakin kalau saya laki-laki) kota mengguncang desa. Jauh-jauh hari sebelum secara resmi saya bergabung dengan sebuah NGO Kristen yang cukup besar dengan menyandang job title sebagai Child Protection Officer untuk Kabupaten Manggarai-NTT, saya sudah menyiapkan mental untuk pindah ke kota kecil, dan melayani masyarakat dari desa ke desa.

Itu artinya saya jauh dari Gramedia, tempat favorit saya sepanjang masa. Saya pun jauh dari XXI, tempat saya sering menyegarkan diri dengan tontonan-tontonan yang bermutu. Dan yang lebih menyedihkan adalah saya akan jauh dari Mama, Kakak, adik saya yang baru menikah, dan 7 keponakan yang super hebat. Tidak mudah bagi saya sebenarnya. Tapi seorang prajurit yang baik tidak boleh memusingkan perkara kehidupannya, selain mematuhi perintah komandannya.

90 persen, saya sudah siap lahir batin jauh dari kehidupan metropolitan yang serba cepat, padat dan modern. Dan saat-saat ini saya sedang menikmati momen-momen “terakhir” saya bersama keluarga tercinta, karena saya akan bisa berjumpa mereka kembali setelah tanggal 31 Januari 2014. Meski revolusi internet semakin memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan juga akan menjadi tumpuan saya dalam berkomunikasi dengan orang-orang tercinta, tetapi tentu tidak seindah ketika komunikasi antara saya dan orang-orang yang saya cintai tidak berjarak.

Tetapi saya sudah sangat siap lahir batin. Yang mengherankan adalah pelbagai peristiwa yang terjadi sejak setahun yang lalu, nampaknya sudah mempersiapkan saya untuk tugas saya yang baru ini.

Persis pada pertengahan Agustus 2011, saya “diberhentikan” dengan hormat dari sebuah NGO tempat saya selama 3 tahun lebih mendarmabaktikan hidup saya kepada anak-anak dan masyarakat miskin. Pengalaman indah selama melayani masyarakat perkotaan dan pedesaan di Bali, Medan, dan Tanjung Balai, banyak memberikan cakrawala baru dalam memaknai realitas kemiskinan dan tanggung jawab saya sebagai orang Kristen terhadap realitas itu. Saya juga belajar banyak tentang bagaimana menghargai manusia, khususnya sesama rekan sepelayanan, orangtua anak, pemimpin, masyarakat sekitar proyek, dan khususnya anak-anak. Secara kompetensi, saya pun berkembang secara drastis. Saya nyaris tahu dan mampu membuat perencanaan, penganggaran, dan pelbagai tugas manajerial.

Pengalaman pembelajaran yang menyenangkan.

Selanjutnya setelah “diberhentikan” dengan hormat, saya sempat mencicipi dunia televisi, khususnya pembuatan konten acara. Saya berhasil merampungkan 5 episode acara televisi untuk anak-anak yang berbasis pengembangan karakter. Dan proses penulisan naskah, penelitian, casting, dan koordinasi untuk pelaksanaan syuting berhasil saya lakukan dalam waktu sebulan. Saya belajar bagaimana sebuah manajemen deadline yang sebenarnya. Dan terlebih dari itu, teori tentang penulisan naskah dan pembuatan film yang sudah saya pelajari sejak awal tahun 2000 menjadi sebuah realita yang berhasil saya wujudkan. 

Dan Kanaba Kanabi Show, acara yang saya buat, setidaknya mengajari keponakan-keponakan saya untuk memiliki karakter yang baik sebagai anak. Saya pun bisa bertemu dan bekerja sama dengan Richard Buntario, salah seorang sutradara kenamaan dan legendaris yang sudah saya kagumi sejak SMP.

Bersamaan dengan peristiwa “pemberhentian” saya pada Agustus 2011, saya pun harus meninggalkan Bandung untuk kemudian tinggal bersama Mama, adik, dan keponakan-keponakan saya di sebuah desa yang bernama Burangkeng. Rumah kami sederhana saja, dengan pekarangan di samping rumah yang cukup luas. Tetapi nyaris setahun saya tinggal di sini, saya semakin dipersiapkan untuk tugas saya yang baru ini.

Di Burangkeng, saya “dipaksa” hidup sederhana, dan mengurangi secara drastis pula konsumsi saya. Dikarenakan rumah yang jauh dari mana-mana, dan juga uang yang minim di dompet saya, saya jadi belajar berhemat secara luar biasa. Sesuatu yang sangat sulit saya lakukan ketika masih bekerja di Bandung. Tidak ada lagi pengeluaran untuk nonton bioskop, kencan di cafe, dan pelbagai kegiatan-kegiatan konsumtif lainnya. Dan ternyata pun kemudian saya sangat menikmati hidup di daerah yang terpencil seperti rumah saya sekarang.

Saya menikmati tidur malam yang lebih cepat. Saya menikmati bangun tidur di hawa yang sangat sejuk. Saya menikmati kegiatan berkebun kecil-kecilan di pekarangan rumah. Saya menikmati hidup sesederhana mungkin. Saya menikmati setiap menit yang saya habiskan bersama keponakan-keponakan saya di atas motor saat saya mengantar mereka sekolah dan menjemput mereka kembali.

Hal lain yang saya yakin sudah disiapkan oleh Sang Khalik, hubungan cinta saya kandas. Sebenarnya saya sangat serius ingin menata masa depan dengan dia yang saya cintai, tetapi takdir berkata lain. Ada peristiwa yang kemudian membuat saya dengan berat hati meninggalkan dia dan senyumannya yang pernah mengguncang perasaan saya.

Semua peristiwa-peristiwa itu, baik yang menyedihkan maupun yang menyenangkan, ternyata jika disusun satu persatu hari ini merekonstruksi ulang saya yang dalam waktu dekat akan mendarmabaktikan ilmu dan hidup saya untuk masyarakat Kabupaten Manggarai. Tugas yang menanti saya tentu tidaklah mudah, tetapi saya sudah siap karena kaki saya sudah kuat melangkah. Ketika saya mulai mendapatkan pembekalan di kantor saya yang baru, saya berulangkali menangis dalam hati karena semua peristiwa yang terjadi menjadi sebuah gambaran utuh yang jelas sekarang.

Contoh sederhana saja, jika hari ini saya masih berpacaran nampaknya akan sulit sekali menjalani proses pacaran jarak jauh. Belum lagi ditambah konflik pacaran yang pasti akan menguras emosi dan konsentrasi saya dan kemudian mengganggu kinerja saya. Padahal usia saya sudah tidak muda lagi, dan saya harus sudah sangat ajeg dalam karir saya saat ini.

Atau jika saya tidak dipaksa hidup di desa, saya yakin akan sulit sekali beradaptasi dengan daerah yang minim dengan hal-hal yang modern. Saya pasti akan dengan mudah menjadi gelisah ketika tidak ada mal, cafe, XXI, koneksi internet yang stabil di tempat saya yang baru. Tetapi Tuhan menempatkan saya di Burangkeng, dimana hiburan yang tersedia hanyalah cabe rawit di pekarangan, kokok ayam di halaman, dan gonggongan Brownie anjing tua yang belum kawin hingga detik ini.

Ada yang berminat dengan Brownie? Maksudnya menikahkan anjing betinanya dengan Brownie. Jika ada, ini foto Brownie.

Hidup tak ubahnya bagai sebuah puzzle yang belum terangkai secara utuh. Setiap peristiwa yang kita alami adalah akibat dan sebab pada saat yang bersamaan yang kelak membentuk gambar utuh. Tetapi untuk mendapatkan sebuah gambar utuh, diperlukan kesabaran dalam menyusun kepingan-kepingan yang masih berserakan. Kesabaran dalam menemukan arti sejati di balik tangis dan tawa yang kita alami.

Pada akhirnya ketika kita bersabar menanggung segala perkara hidup, niscaya hidup kita akan menjadi kesaksian akan kebesaran Sang Ilahi.

Tak lama lagi saya akan menjalani hidup yang bertolak belakang dengan bio dari salah satu artis yang saya ikuti akun twitternya. Dari kota pergi ke desa. Tanpa mengecilkan diri dan kuasaNya, saya tidak berambisi menggoncang desa, atau membawa perubahan di tempat saya akan berbakti kelak. Apakah artinya saya hanya bekerja tanpa membawa dampak? Bukan itu maksud saya. Dengan semua pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki, saya tahu membuat perubahan adalah sesuatu yang bisa saya lakukan. Tetapi sesuai dengan nilai yang diyakini organisasi tempat saya bekerja sekarang yaitu masyarakatlah yang sejatinya menjadi aktor utama atas perubahan yang terjadi di tengah mereka. Bukan saya, tetapi warga desa.

Dalam lubuk hati ini, keinginan saya tidaklah lebih hanya ingin berikhtiar mendatangkan sebanyak-banyaknya manfaat kepada orang-orang yang berada di sekitar saya, sehingga mereka pun kelak dapat pula meretas jalan menuju keutuhan mereka yang sejati, yaitu serupa dan segambar dengan Sang Khalik. Pada akhirnya, gambar utuh kehidupan saya bukanlah tentang saya, tetapi tentang DIA yang sudah menebus saya dari kegelapan.

Written by Rolan Sihombing

July 31, 2012 at 3:01 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Nice testimony……

    Vero

    October 12, 2012 at 11:28 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: