Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Menulis Untuk Ketenaran Atau Kebenaran

leave a comment »

Beberapa hari ini saya tidak membarui blog saya dengan tulisan baru. Akibatnya tidak ada satu pun pembaca yang mengunjungi akun wordpress saya. Kebetulan wordpress mempunyai fasilitas Stats yang membantu penulis untuk melihat berapa banyak orang yang mampir ke akunnya.

Sudah tiga hari, pengunjung akun saya NOL.

Saya kagum dengan seorang Raditya Dika yang berawal dari tulisan di blog, kemudian secara bertahap bertransformasi menjadi penulis buku, comic (komedian panggung), narasumber pelbagai seminar, dan juga selebritis.

Demikian juga Arif Muhammad, sosok di balik @poconggg yang demikian fenomenal di jagad Twitter. Jumlah follower @poconggg pada saat tulisan ini dibuat adalah 2,055,356.

Baik @radityadika maupun @poconggg adalah dua akun twitter dari Indonesia yang punya pengaruh signifikan di seantero dunia. Karakteristik di antara keduanya pun nyaris serupa tapi juga tak sama yaitu (dikutip dari SINI):

  1. berkisar lelucon dan penghinaan;
  2. penghinaan bersifat timbal balik dengan followernya;
  3. membuka hal-hal yang menurut umum dianggap aib;
  4. menempatkan diri sebagai obyek penghinaan.

Siapa yang tidak ingin karena hobi menulis dengan karakteristik seperti itu, sontak menjadi tokoh publik yang terkenal, dan juga mendapatkan limpahan materi yang juga tidak sedikit? Semua yang gemar menulis, tentu memiliki hasrat terpendam untuk meraih ketenaran lewat tulisannya. Termasuk saya!

Meski saya bukanlah seorang yang gemar menulis buku harian sejak remaja seperti Raditya Dika, tetapi tipikal kepribadian saya yang “Steady” dengan kecerdasan intra-personal yang dominan, menjadikan saya gemar merenungi atau merefleksikan segala sesuatu yang terjadi di sekitar. Ditambah lagi dengan kecerdasan saya yang lain yang juga sama kuatnya dengan intra-personal, yaitu kecerdasan linguistik, menjadikan saya gemar bermain dengan aksara dan menjadikannya rangkaian kata-kata. Jadi saya cara belajar saya adalah dengan melakukan refleksi dan menuangkannya dalam tulisan, baik tulisan pendek seperti status Facebook dan twit, maupun lewat tulisan panjang seperti artikel ataupun renungan singkat.

Orang-orang yang mengenal saya dengan baik dan cukup lama, akan sangat memahami bahwa semua tulisan pendek dan panjang saya lahir dari refleksi yang panjang terhadap sebuah realita yang saya temui sehari-hari. Dan jika kadang-kadang tulisan-tulisan tersebut sepertinya penuh dengan sindiran ataupun terlihat seperti orang “pahit hati” padahal sejatinya itu merupakan sebuah cara saya untuk memperingatkan diri saya sendiri. Seperti itulah saya belajar dan mendapat pemahaman mengenai segala hal.

Sehingga kemudian ketika saya menulis dengan meniru gaya Raditya Dika ataupun Poconggg, sebenarnya saya sudah bertentangan dengan karakter dan pola belajar saya sendiri. Meski konon katanya orang dengan “Steady” yang tinggi pun memiliki kemampuan humoris yang baik, tetapi harus diakui saya tidak akan bisa menyamai Raditya Dika ataupun Poconggg. Lagipula di dunia ini cuma hanya ada satu Raditya Dika, Poconggg, dan Rolan Sihombing.

Ketenaran Atau Kebenaran?

Terlepas dari uraian panjang di atas, menulis sejatinya harus bertujuan. Ada dua tipe tujuan menulis di dalam hemat saya yaitu untuk KETENARAN dan untuk KEBENARAN. Meski berbeda satu huruf, tentu saja kata TENAR dan BENAR tidak memiliki arti yang sama. Sama seperti kata TOLONG dan TODONG, yang hanya berbeda satu huruf, tetapi artinya tentu saja sangat bertolak belakang. Saya akan takjub terheran-heran jika ada yang menyatakan TENAR-BENAR dan TOLONG-TODONG hanya memiliki perbedaan yang sedikit. Mungkin jika ada orang yang menyatakan perbedaan di antara dua pasang kata tersebut hanyalah sedikit, maka orang itu musti diragukan kemampuan linguistiknya. Percuma saja Yus Badudu dulu bersusah payah mengajarkan bahasa Indonesia yang benar di TVRI.

Saya tidak akan menganggap ketenaran lebih buruk ketimbang kebenaran, dan juga sebaliknya. Kedua-duanya merupakan pilihan yang berhak diambil oleh setiap penulis. Urusan mana yang benar atau salah, adalah sepenuhnya merupakan hak Tuhan. Kita sebagai manusia tidak berhak menghakimi sesama kita manusia.

Jika saya dihadapkan pada dua pilihan tersebut, maka saya akan memilih menulis untuk kebenaran. Naif memang, tetapi saya lebih suka sesuatu yang benar ketimbang sesuatu yang bersifat populer. Mengapa demikian?

  1. Saya percaya kebenaran itu bersifat kekal, sedang ketenaran seringkali hanya sementara.
  2. Saya percaya kebenaran itu pelan tapi lambat laun secara gradual akan semakin benderang, sedang ketenaran seringkali cepat didapat namun akan muncul pula ketenaran baru yang membunuhi ketenaran yang lama.
  3. Saya percaya tujuan akhir kebenaran adalah untuk kebaikan bersama, sedangkan biasanya tujuan akhir ketenaran hanya di wilayah personal.  

Tetapi kemudian sebuah tulisan yang baik dan BENAR, pasti akan mengantar penulisnya kepada sebuah fase KETENARAN. Sudah banyak penulis yang tiba di fase ini. Sebut saja Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Mira W, Dewi “Dee” Lestari, Agnes Davonar, dan tentu saja Raditya Dika. Atau pula Stephen Covey, Stephen King, J.K. Rowling, Leo Tolstoy, C.S. Lewis, T.S. Elliot, dan para penulis terkenal dunia yang sudah melakukan tugasnya, yaitu menambahkan setitik kebenaran lewat karya tulisnya.  

Kebenaran Apa Yang Harus Ditulis?

Dunia ini penuh dengan saling klaim kebenaran. Setiap agama meyakini bahwa mereka memiliki kebenaran. Jadi kebenaran mana yang harus ditulis? Kebenaran apapun, selama ia menginspirasi sebuah perubahan ke arah yang baik.

Kebenaran akan bernilai benar pula jika ia bersumber kepada Kebenaran Sejati, yaitu TUHAN semesta Alam. Tuhan yang disapa oleh setiap agama. Tuhan yang dikenal oleh semua suku bangsa. Tuhan yang menjelma di tengah norma-norma.

Dan bagi saya, kebenaran adalah segala hal yang menghancurkan hatiNya. Entah itu kemiskinan, amoralitas, penindasan terhadap hak anak, tuna wisma, perdagangan anak, pengangguran, HIV-AIDS, korupsi, dan semua hal yang bersumber dari dosa. 

Dan untuk hal tersebut, saya akan tetap menulis. Bukan karena sekedar ingin menampuki tangga ketenaran.

Written by Rolan Sihombing

July 24, 2012 at 2:52 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: