Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Jangan Coblos Nasdem, Apalagi Demokrat

leave a comment »

Pemilu 2014 sudah di pelupuk mata. Berbagai intrik-intrik politik pun mulai mengemuka, termasuk migrasi politikus-politikus “kutu loncat.” Salah satunya adalah rencana kepindahan besar-besaran 37 politikus Partai Demokrat ke partai baru yang rajin beriklan di TV, Partai Nasdem. Alasan kepindahan ini dikarenakan faktor elektabilitas Partai Demokrat sudah menurun drastis akibat kasus korupsi yang melibatkan kader-kader berlambang Mercedes Benz ini.

Ketua Umum Partai NasDem Patrice Rio Capella mengatakan, sebanyak 37 kader sudah menjalin komunikasi politik dengan partainya. ”Mereka bilang, tunggu saatnya kami akan menyeberang,” katanya saat dihubungi. Meski demikian Patrice menolak menyebutkan nama dari para kutu loncat ini, dan menyatakan tetap akan ada seleksi ketat yang diberlakukan bagi mereka yang ingin bergabung dengan partai bentukan Surya Paloh.

Kabar ihwal hengkangnya kader Demokrat diakui Hayono Isman, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat. Dia pun menyayangkan aksi para kader Partai Demokrat tersebut jika hanya gara-gara menurunnya elektabilitas Demokrat karena kasus korupsi. ”Sangat disayangkan kalau itu benar-benar terjadi,” katanya kemarin.

Terkait isu perpindahan 37 politikus Demokrat ke Nasdem, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, mengatakan, sekalipun kader yang pindah itu tidak terlibat kasus korupsi, toh partai yang ditinggalkan sudah mendapat cap yang buruk. ”Jadi, sekalipun pindah partai, kader tersebut tetap mendapat cap kader yang korup,” ujarnya. Karena itu, Arbi menilai, situasi seperti itu bakal menambah beban bagi Partai NasDem.

Perilaku kader-kader Demokrat ini tidak ubahnya seperti hewan yang bermigrasi. Sebagaimana hewan yang adalah makhluk hidup, politikus juga memiliki naluri untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Hewan melakukannya dengan cara memenuhi kebutuhan makanan dan berkembang biak.

Menurut Wikipedia, migrasi hewan adalah sebuah gerakan periodik hewan dari tempat di mana ia telah tinggal ke daerah yang baru dan kemudian melakukan perjalanan kembali ke habitat asli. Faktor-faktor pendorong hewan untuk bermigrasi biasanya untuk mencari makanan yang berlimpah dan juga mencari tempat yang baik untuk berkembang biak.

Berdasarkan artikel yang dapat ditemukan di SINI, beberapa binatang seperti banyak spesies serangga, bermigrasi hanya sekali selama hidup mereka, sering hanya sebelum mereka bereproduksi. Hewan lain, termasuk banyak spesies burung dan hewan laut, seperti penyu dan paus, bermigrasi jarak panjang untuk tempat berkembang biak mereka berkali-kali selama hidup mereka.

Dalam kasus lain, hewan dipaksa untuk meninggalkan daerah ketika kondisi lingkungan memburuk. Banyak spesies burung yang bersarang di Kanada dan wilayah utara Amerika Serikat bermigrasi ke selatan sebagai pendekatan musim dingin. Alasan utama burung-burung bermigrasi ke selatan adalah karena suplai makanan mereka (termasuk serangga dan ikan) tidak akan tersedia selama bulan-bulan dingin. Namun, burung-burung ini biasanya dimulai bermigrasi ke selatan sebelum pasokan makanan mereka telah menghilang, dan sering bahkan sebelum mulai menurun.

Dari penjelasan migrasi hewan tersebut dapat disimpulkan seperti berikut:

  1. Migrasi dilakukan karena persediaan makanan yang menipis.
  2. Migrasi dilakukan karena kebutuhan untuk berkembang biak.
  3. Migrasi dilakukan secara periodik dengan pola rute yang sama secara turun temurun.

Jika rencana kepindahan kader Demokrat ke Partai Nasdem benar-benar terjadi, maka sudah dapat disimpulkan bahwa, PERTAMA, politikus-politikus Demokrat tersebut menganggap tugasnya sebagai wakil rakyat hanya untuk kebutuhan perut. Saya mencurigai kebanyakan politikus-politikus bangsa ini pun memiliki alasan yang sama dalam mengemban amanat rakyat yang diwakilinya. 

Berdasarkan artikel INI, setiap bulannya seorang anggota DPR minimal mengantongi gaji Rp 51,5 juta. Ini adalah besaran take home pay anggota Dewan setiap bulannya. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Gaji pokok Rp 4,2 juta.
  2. Tunjangan istri Rp 420 ribu.
  3. Tunjangan anak (2 anak) Rp 168 ribu.
  4. Uang sidang/paket Rp 2 juta.
  5. Tunjangan jabatan Rp 9,7 juta.
  6. Tunjangan beras (4 jiwa) Rp 198 ribu.
  7. Tunjangan PPH Pasal 21 Rp 1,729 juta.

Adapun jumlah gaji pokok dan tunjangan anggota Dewan sebenarnya mencapai Rp 18,415 juta. Namun, setelah dipotong pajak dan iuran wajib DPR sebesar 10 persen, anggota hanya berhak atas Rp 16,207 juta.

Sementara itu, komponen penerimaan lain-lain anggota Dewan beragam sesuai dengan ada atau tidaknya jabatan seorang anggota pada alat kelengkapan Dewan. Untuk anggota biasa tanpa jabatan pimpinan alat kelengkapan Dewan rinciannya sebagai berikut:

  1. Tunjangan kehormatan Rp 3,720 juta.
  2. Tunjangan komunikasi intensif Rp 14,140 juta.
  3. Tunjangan peningkatan fungsi dan pengawasan anggaran Rp 3,5 juta.
  4. Biaya penelitian dan pemantauan peningkatan fungsionalitas dan konstitusional Dewan Rp – (khusus ketua dan wakil ketua alat kelengkapan Dewan berhak atas Rp 500.000-Rp 600.000).
  5. Dukungan biaya bagi anggota komisi yang merangkap menjadi anggota badan/panitia anggaran Rp 1 juta.
  6. Bantuan langganan listrik dan telepon Rp 5,5 juta.
  7. Biaya penyerapan aspirasi masyarakat dalam rangka peningkatan kinerja komunikasi intensif Rp 8,5 juta.

Sebuah jumlah yang sangat besar sehingga tak heran jika banyak yang ingin pindah ke Partai Nasdem yang berhasil memoles citra partai baru ini dengan iklan yang jor-joran. Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan lagi take home pay sebesar Rp 51,5 juta per bulan selama masa jabatan 2014-2019?

KEDUA, para politikus tersebut, dan juga kebanyakan politikus yang lain, hanya berupaya melanggengkan kekuasaan ketimbang mendaratkan kemaslahatan publik lewat posisinya sebagai wakil rakyat. Kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di negeri ini. Padahal kekayaan bumi Indonesia begitu melimpah namun rakyatnya belum tersejahterakan. Pekerjaan masih sulit dicari. Perputaran uang hanya terpusat di Jakarta, dan pulau Jawa. Sedangkan di pedalaman Papua masih banyak anak-anak yang belum tersentuh oleh pendidikan dasar. Gizi buruk masih terjadi bahkan di Jakarta sekalipun. Rakyat Indonesia di tangan politikus busuk tak ubahnya seperti tikus yang mati kelaparan di lumbung padi.

Padahal tugas kepemimpinan sejatinya diadakan untuk kesejahteraan bersama. Seth Godin dalam bukunya “Tribes” menyatakan legalitas kepemimpinan berasal dari tribe yang ia pimpin, dan sebuah tribe tidak akan eksis jika tidak ada pemimpin. Sebuah hubungan mutualistik yang dibangun atas kebutuhan dasar manusia, yaitu menjadi bagian dari suatu kelompok. Ini merupakan mekanisme bertahan hidup yang paling efektif dan dapat ditemui di tiap makhluk hidup lainnya. 

Pemimpin dipilih oleh orang-orang di dalam tribenya dikarenakan mereka percaya pada sebuah gagasan, bahwa Raja mereka akan mendatangkan kebaikan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik. Rakyat ingin sebuah perkembangan yang lebih baik yang dapat menjamin proses bertahan hidup yang mereka hadapi setiap hari.

Sampai di sini, politikus telah GAGAL. Politikus lebih suka kenyamanan dan kemewahan mereka. Dan demi sebuah hidup yang nyaman mereka dengan tega menari di atas tangisan rakyat miskin.

KETIGA, para politikus Demokrat, dan juga politikus pengelana lainnya, dalam upaya mempertahankan kenyamanannya selalu memiliki pola yang berulang. Dan masa-masa jelang PEMILU ataupun PEMILUKADA, umumnya pola inilah yang mereka lakukan:

  • Memasang POSTER dengan senyum menawan disertai dengan pernyataan yang muluk-muluk seperti 250.000 lapangan pekerjaan, 3 Tahun Bisa, ataupun yang sedang booming sekarang adalah “Jika saya korupsi, saya bersedia dihukum mati.”

  • Mengadakan pesta dangdutan koplo untuk membius rakyat sehingga tidak mengkritisi program kerja yang dicanangkannya.
  • Melakukan serangan fajar alias memberi uang kepada pemegang hak suara beberapa jam sebelum TPS dibuka. Uang yang diberikan berkisar 25 ribu hingga 50 ribu.
  • Setelah mengantongi suara mayoritas, segera melakukan lobi-lobi dengan pihak-pihak yang mendanai kampanye mereka. Biasanya yang ditawarkan adalah proyek-proyek pemerintahan.
  • Jalan-jalan ke luar negeri daripada pergi ke kantong-kantong kemiskinan di daerah yang diwakilinya.
  • Titip absen sehingga tidak perlu mengikuti rapat ataupun sidang.
  • Muncul di TV dan berkoar-koar tentang INTEGRITAS dan KEPEDULIAN kepada rakyat miskin.
  • Diperiksa KPK karena diduga terlibat korupsi.
  • Dijadikan terpidana tapi dengan sanksi hukum berkisar 3-5 tahun saja.
  • Bebas dan bisa hidup tanpa rasa malu meski dulu merampok uang rakyat.

Bagaimana PEMILU 2014?

Kembali kepada apa yang saya utarakan di awal, terkait dengan migrasi para kader Demokrat ke partai Nasdem, bahwa sudah saatnya kita memilih dengan cerdas, yaitu dengan mengedepankan keterwakilan yang sahih, bukan keterwakilan yang semu. Seth Godin menyatakan bahwa perekat yang paling kuat antara anggota-anggota dalam tribe kepada sang pemimpinnya adalah ide mengenai perubahan. Jika dahulu faktor geografis adalah salah satu faktor yang perekat yang sangat kuat, maka di era revolusi informasi maka faktor-faktor lain seperti kesamaan asal daerah, kesamaan agama, tidak lagi sedemikian penting. Gagasan akan perubahan yang lebih baik, kembali menjadi dasar dari seseorang menjadi pemimpin kelompok ataupun tribe.

Oleh karena itu jika skenario migrasi 37 kader Demokrat pindah ke Nasdem terbukti, maka sebaiknya jangan coblos Nasional Demokrat. Karena jika itu terjadi artinya partai ini pun tidak memiliki sistem kaderisasi yang direncanakan dengan baik. Tak tertutup kemungkinan, uang akan menjadi faktor yang disyaratkan untuk menjadi kader kelas atas di partai ini. Dan sebagai konsekuensinya, para kader kelas atas itu akan menggerus uang rakyat untuk mengembalikan biaya politik yang sudah ia gelontorkan saat kampanye.

Dan tentu saja, jangan coblos Demokrat. Karena jika skenario ini terjadi berarti partai ini memang benar-benar bobrok! Penuh dengan kader-kader oportunis yang mencari berkat daripada menebar manfaat. Jika partai ini kita izinkan kembali berkuasa, maka jangan-jangan tidak ada harapan bagi jutaan rakyat miskin untuk hidup lebih sejahtera.

Jadi pilih yang mana kalau begitu? Jangan pilih benderanya. Pilih tokoh-tokoh yang berprestasi dan bisa mewakili kepentingan orang banyak, dalam hal ini kepentingan rakyat kecil. Rekam jejak dari tokoh yang kita pilih harus kita pelajari dengan seksama. Prestasi apa yang sudah ia buat? Integritasnya bagaimana? Apakah dia seorang yang dekat dengan rakyat atau lebih sering berjarak dengan rakyat? Hal-hal itu adalah beberapa faktor yang harus kita cermati sebelum menjatuhkan pilihan pada seorang pemimpin yang akan kita percayai memimpin tribe kita.

Jika tidak ada yang satu pun yang bisa saya percayai, saya akan golput. Tetapi saya tahu, Tuhan masih menyisakan sedikit orang di negeri ini yang masih memiliki hati nurani, kepedulian terhadap penderitaan rakyat, berintegritas, dan hidup takut akan Tuhan.

Indonesia pasti berubah!

Written by Rolan Sihombing

July 24, 2012 at 12:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: