Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Persepsi Hidup

leave a comment »

Makna dari hidup yang kita jalani saat ini tergantung dari bagaimana kita mempersepsikan hidup itu tersebut. Sebagai contoh banyak persepsi yang bisa dibangun tentang sebuah laptop. Bagi seseorang mungkin laptop berguna untuk mengerjakan karya tulis. Bagi orang yang lain laptop adalah alat yang mempermudah dalam mengakses dunia maya. Ada pula yang beranggapan jika laptop merupakan alat yang bisa digunakan untuk bermain game. Dan masih banyak ragam lainnya persepsi mengenai sebuah laptop, tapi bisa dikatakan pula bahwa persepsi terhadap suatu laptop itu pula yang kemudian kelak membentuk sikap seseorang terhadap laptop miliknya.

Meskipun hidup jauh lebih kompleks dari sebuah laptop, tetapi intisari dari apa yang disampaikan di atas adalah persepsi kita tentang hidup akan mempengaruhi bentuk sikap kita terhadap hidup yang kita punya. Ketika kita memiliki persepsi yang benar tentang hidup, maka kita pun akan memiliki sikap yang benar terhadap hidup. Dan sebaliknya, ketika kita memiliki persepsi yang tidak benar tentang hidup, maka kita pasti akan memiliki sikap yang salah terhadap hidup.

Di dalam Surat Filipi 3:1-15, Rasul Paulus menyatakan beberapa persepsi yang benar tentang hidup. Yang pertama adalah hidup yang sejati terletak pada kekayaan batin, dan tidak semata-mata mengedepankan hal-hal yang lahiriah. Seringkali orang hanya berfokus pada sesuatu yang bersifat lahiriah. Tubuh yang atletis, betis yang ramping, kulit yang putih, rambut yang hitam legam, kekayaan dan harta yang melimpah, mobil yang mewah, pakaian yang bermerk, sepatu yang mahal, perhiasan yang berkilauan, gadget elektronik yang terbaru, dan pelbagai hal lahiriah lainnya. Tidak salah memiliki tubuh yang atletis tetapi esensinya bukan pada tubuh yang tegap dan perut yang six-pack, melainkan tubuh yang sehat dan bugar. Tidak salah pula memakai pakaian yang bermerk, tetapi yang utama sebenarnya bukan pakaian bermerknya tetapi kerapihan, kebersihan, dan kesopanan kita dalam berbusana.

Sejatinya hidup kita harus difokuskan pada hal-hal yang non-lahiriah. Kekayaan kita seharusnya bukan terlihat secara mencolok di luar, tetapi harus terlihat elok di kedalaman hati. Kebanggaan kita sebagai manusia tidaklah mesti diperlihatkan pada mahalnya parfum, perhiasan, busana, dan aksesoris yang kita kenakan, tetapi tampak secara apik dari pikiran yang cerdas, karakter yang penuh kerendahan hati, tutur kata yang senantiasa membangun orang lain. Dan semua itu bisa terjadi ketika kita memiliki pemahaman yang benar siapa kita sesungguhnya di tengah kehidupan ini.

Kita adalah mahakaryaNya. Buatan tanganNya yang unik dan tiada duanya. Sebuah adibusana yang diciptakan hanya satu kali dan dikenakan pada waktu yang tepat menurut rencanaNya. Itulah kita. Insan yang dikasihi TUHAN pencipta semesta alam. Kita adalah pribadi yang luar biasa dikarenakan tanganNya menaungi kita dan menyertai semua yang kita kerjakan. Ia tidak lagi jauh di surga sana, tetapi begitu dekat dengan kita, yaitu di dalam hati sanubari kita, sehingga apa yang lakukan bukan lagi karena kita takut akan azab tetapi karena kita ingin menyenangkan Dia yang ada di hati kita. Pada akhirnya kesenanganNya saja yang menjadi utama, dan bukan lagi kesenangan kita. Jatidiri kita menjadi utuh karena kita komplit di dalam diriNya. Kita aman karena kita dicintaiNya setiap saat secara apa adanya.

Yang kedua menurut Rasul Paulus, hidup adalah laksana pertandingan lari yang harus dijalani sampai selesai. Perlombaan lari mungkin merupakan salah satu cabang olahraga yang paling tua dalam peradaban manusia. Dan dalam zaman Paulus, perlombaan lari merupakan cabang olahraga yang popular kala itu. Menarik jika kita menilik alasan mengapa perlombaan lari merupakan analogi yang tepat untuk sebuah arti kehidupan.

Pada masa itu, setiap pelari haruslah telanjang bulat ataupun hanya mengenakan cawat sebagai penyangga alat vital ketika mereka berlari. Ini dikarenakan pakaian rupanya menghambat gerak dan kecepatan dari si pelari. Sehingga dengan tubuh yang nyaris polos, mereka bisa melesat secepat-cepatnya menuju garis finish. Jika hidup adalah pertandingan lari, maka setiap kita harus melepaskan semua penghambat yang melekat dalam hidup kita. Tentu yang dimaksud dengan penghambat bukanlah pasangan hidup ataupun anak-anak kita, tetapi sesuatu yang ada di dalam diri kita yang kiranya dapat menghambat kecepatan lari kita. Yang dimaksud adalah karakter antagonis yang ada bersemayam dalam diri kita sejak lama, dengan atau tanpa kita sadari. Inilah sisi gelap diri kita, dimana hanya TUHAN dan kita sendiri yang tahu, yang harus kita tanggalkan secara keseluruhan sehingga kita bisa berlari cepat.

Mengenali diri sendiri, kelebihan dan kekurangan, merupakan langkal awal yang harus kita lakukan agar kita bisa bertahan dalam perlombaan hidup ini. Karisma mungkin bisa membawa kita cepat naik ke permukaan, tapi karakter yang mulialah yang memampukan kita tetap bertahan di permukaan. Karakter yang mulia ini hanya bisa dibentuk dari sesuatu yang bersifat lebih mulia. Dan tak ada yang lebih mulia dari perintah-perintahNya yang ada dalam Kitab Suci. Selain itu, karakter mulia pun bisa terbentuk dengan baik dikarenakan kita berinteraksi secara sehat dengan sesama manusia yang juga sedang belajar untuk menjadi mulia.

Seorang pelari juga harus memiliki fokus dan konsentrasi yang kuat untuk memenangkan pertandingan. Tidak boleh ada sesuatu pun yang ada dalam pikiran pelari selain pertandingannya, garis finish di depan, dan hadiah kemenangan yang dijanjikan. Pada masa itu, hadiah kemenangan berupa mahkota dedaunan, seperti daun zaitun liar sebagai pengganti medali. Kadang-kadang sang juara pun diarak masuk kota melalui sebuah lubang yang dibuat khusus pada tembok kota. Mereka dielu-elukan di jalan kota dan disambut pembacaan puisi. Penghargaan lain kepada olahragawan berprestasi berupa pembebasan dari pajak dan berbagai santapan gratis. Beberapa kota juga memberikan bonus uang dalam jumlah besar. Bahkan di kota kediaman pemenang didirikan patung mereka, dan itulah hadiah paling abadi milik sang juara.

Rupanya perlombaan hidup ini hanya akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki fokus dalam hidup ini. Ketika seorang pelari mengalami distraksi ketika ia bertanding, maka kemungkinan besar ia akan tersingkir dari perlombaan dan mengalami kekalahan. Seorang pemenang adalah ia yang fokus pada semua kekuatan yang ia miliki.

Setiap kita memiliki potensi ilahi yang unik dan tidak dimiliki oleh orang lain. Pengalaman hidup kita pun juga unik. Dan lintasan hidup tempat kita berlari pun unik. Semuanya dirancang TUHAN hanya untuk kita. Sehingga dengan kemampuan kita yang unik, pengalaman hidup yang unik, dan wadah untuk kita berkarya yang juga unik, menjadikan kita seseorang yang seharusnya sudah pasti menang. Hanya yang jarang dimiliki oleh orang adalah kemampuan untuk tetap fokus pada perlombaan hidup yang diwajibkan kepadanya. Ketika ia memfokuskan seluruh kekuatannya, maka perlombaan tersebut akan dimenangkannya. Semua yang ia impikan akan didapatkannya.

Hidup ini seyogyanya tidak berorientasi pada hal-hal lahiriah tetapi pada hal-hal batiniah. Keelokan seorang manusia tidaklah ditentukan dari penampilan luarnya, melainkan dari kekayaan batin dan hatinya. Ketika RAJA Semesta Alam bertahta secara menyeluruh dalam hidup kita, maka kita akan mengelola hidup kita dengan seelok mungkin untuk kesenanganNya. Hidup yang kita jalani adalah wadah ungkapan syukur kita kepada rahmat dan karuniaNya yang begitu luas terbentang dan dalam tak terkira. Hidup ini adalah tentang DIA semakin besar dalam kehidupan kita yang singkat ini.

Hidup ini juga tak ubahnya sebuah perlombaan lari dimana kita adalah pelarinya. Untuk bisa menjalani perlombaan dan memenangkannya, maka setiap kita harus selalu menyadari setiap kekurangan kita sebagai manusia. Kita tidak sempurna dan tidak akan pernah menjadi sempurna sampai kecuali Yang Maha Sempurna menyempurnakan kita. Mengizinkan kita dikoreksi oleh perintah-perintahNya dan juga membiarkan orang lain menjadi guru kehidupan kita, akan membuat kita sebagai pribadi yang selalu mawas diri dan bergantung sepenuhnya pada kemurahanNya.

Selain itu untuk bisa menjalani perlombaan dan memenangkannya, kita juga harus memfokuskan diri pada setiap potensi yang sudah ada pada kita. Kita ada hari ini diakibatkan hasil reaksi kita dari apa yang terjadi di hari-hari yang telah lewat. Dan itulah yang membuat kita semakin unik dan punya kemampuan untuk mempengaruhi sekitar kita. Alih-alih menggerutu terhadap apa yang orang lain miliki, lebih baik memusatkan seluruh energi, hasrat, dan cinta kita kepada sesuatu yang hanya dimiliki oleh kita. Ketimbang duduk diam dan menyesali sebuah kehidupan yang terus berjalan, mari kita bangkit menyadari bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang mustahil bagi orang yang tekun menjalani perlombaan hidupnya.

Itulah persepsi yang benar tentang hidup. Semoga esok, kita semakin arif menyikapi hidup yang kelewat singkat ini.

Selamat hidup…

Written by Rolan Sihombing

July 20, 2012 at 9:12 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: