Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Menulis Demi Perubahan

leave a comment »

Beberapa hari ini saya nyaris tidak bisa posting tulisan baru. Selain karena kelelahan fisik akibat padatnya pembekalan di kantor baru, saya juga mengalami kebuntuan dalam menulis. Kebuntuan yang disebabkan sebuah pertanyaan mendasar yang bergaung-gaung beberapa hari ini, yaitu “Mengapa kau menulis?”

Dengan fisik yang cukup lelah, ditambah pertanyaan batin yang terus menerus menggelisahkan jiwa, menjadikan kebuntuan dalam menulis secara masif. Menulis menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Dan kadang-kadang ketika sebuah ide tulisan muncul di otak, tetapi sontak karena keraguan yang ditimbulkan pertanyaan tersebut menjadikan saya ragu untuk melanjutkan penulisan.

Jika pertanyaan “Mengapa Anda Menulis?” ditanyakan kepada para penulis, pastilah jawabannya beragam. Untuk merangkum jawaban yang beragam itu, berikut tujuan di balik kepenulisan berdasarkan buku “Jadi Penulis Ngetop Itu Mudah” yang ditulis oleh Lie Charlie.

  • Memberi (Menjual) Informasi
    Sebagian besar tulisan dihasilkan dengan tujuan memberi (baca: menjual) informasi, teristimewa bila hasil karya tulis tersebut diperjualbelikan. Pada sisi positif lain, tulisan juga bersifat memperkenalkan atau mempromosikan sesuatu, termasuk suatu kejadian (berita) atau tempat (pariwisata).
  • Mencerahkan Jiwa
    Bacaan sudah menjadi salah satu kebutuhan manusia modern, sehingga karya tulis selain sebagai komoditi juga layak dipandang sebagai salah satu sarana pencerahan pikiran dan jiwa.
  • Mengabadikan Sejarah
    Sejarah harus dituliskan agar abadi sampai ke generasi selanjutnya.
  • Ekspresi Diri
    Tulisan juga merupakan sarana mengekspresikan diri, baik bagi perorangan maupun kelompok.
  • Mengedepankan Idealisme
    Idealisme umumnya dituangkan dalam bentuk tertulis supaya memiliki daya sebar lebih cepat dan merata.
  • Mengemukakan Opini dan Teori
    Buah pikiran pun hampir selalu diabadikan dalam bentuk tulisan.
  • “Menghibur”
    Baik temanya humor maupun bukan, tulisan umumnya juga bersifat “menghibur”.

Dari sekian banyak tujuan menulis yang terpapar di atas, saya sangat menyukai tujuan menulis yang dilontarkan sang maestro, sastrawan almarhum Pramoedya Ananta Toer yang dalam berbagai kesempatan selalu menyebutkan bahwa menulis adalah sebuah tugas sosial. Saat menulis, seseorang harus menyadari bahwa ia menulis untuk melayani masyarakat (pembaca). Masyarakat ataupun pembaca haruslah menjadi yang terutama.

Oleh karena itu, paradigma ini sangat perlu ditanamkan di benak mereka yang ingin menjadi penulis yang baik. Karena penulis yang baik akan menyajikan tulisan yang baik jika tulisannya:

  • menghormati pembaca;
  • berbicara dengan pembaca;
  • tidak berbelit-belit.

Menulis dan Perubahan Sosial

Jika  kemudian kita menyepakati bahwa menulis (idealnya) adalah sebuah tugas sosial, maka konsekuensinya kegiatan menulis seharusnya pun menciptakan perubahan di masyarakat ataupun pembaca. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah banyak penulis yang sekedar ingin populer dengan tulisan yang juga tidak membawa perubahan yang lebih baik di masyarakat atau pembaca sebagai konsekuensi dari tugas sosial kepenulisan itu.

Beberapa penulis, khususnya penulis muda yang cukup terkenal sekarang dan bahkan beberapa di antaranya sudah menjelma menjadi seleb, nampaknya sedikit melupakan tanggung jawab mulia di balik sebuah tulisan. Beberapa di antara mereka lebih sering menulis sesuatu yang remeh, hanya sekedar lucu, bahkan terkadang mengumbar permasalahan pribadi mereka tanpa melakukan tugas refleksi untuk memberi penguatan kepada pembaca yang mengalami permasalahan serupa. Isu-isu yang diangkat selalu seputar cinta, trik mendapatkan pacar, dan isu-isu lain yang sebenarnya tidak memiliki bobot yang signifikan dalam menciptakan perubahan.

Bahkan seorang penulis yang memiliki follower twitter lebih dari 2 juta, pernah membahas sila-sila dalam Pancasila dalam kacamata isu kejombloan. Tulisannya memang lucu tetapi dalam hemat saya sangatlah tidak pantas, karena yang bersangkutan telah melecehkan dasar Negara kita.

Menulis seharusnya menginspirasikan sebuah perubahan dalam wilayah pikiran, kemauan dan kemampuan.

Pertama, tulisan yang baik akan memberikan asupan informasi yang akurat dan sehat. Informasi tersebut akan mengalami proses rethinking sehingga kita kemudian mendapatkan sebuah pemahaman yang baru mengenai informasi yang sudah kita cerna. Dengan kata lain tulisan yang baik akan mengenyangkan akal sehat kita sehingga kemudian kita mendapatkan sebuah pengalaman pembelajaran.

Kedua, tulisan yang baik akan menginspirasikan seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu hal yang rasional berdasarkan pengalaman pembelajaran yang sudah terjadi. Mengapa rasional? Karena selama manusia berakal sehat, maka tindakan-tindakan yang ia kerjakan tidak akan menyimpang dari rasionalitas. Pikiran yang sehat akan membuat seseorang bertindak secara sehat pula, kurang lebih seperti itu intinya.

Ketiga, tulisan yang baik akan memberdayakan seseorang untuk bertindak secara tepat guna berdasarkan sumber daya yang ia miliki. Seseorang yang rasional tentu tidak akan bertindak menyimpang dari koridor kelaziman, dan ia pun akan mengerahkan semua sumber daya yang ia miliki untuk mampu melakukan pelbagai tindakan-tindakan yang sesuai dengan kewajaran ataupun kelaziman. Ketepatgunaan tindakan seseorang akan sangat ditentukan dari besaran informasi yang mendeskripsikan dengan jelas perangkat ataupun sumber daya yang bisa ia gunakan.

Di sinilah kegunaan mendasar dari sebuah tulisan yang baik. Memberikan informasi yang tepat, menginspirasikan sebuah tindakan yang tepat, dan kemudian pula memberdayakan si pelaku untuk mampu mengerahkan semua sumber daya yang ia miliki dalam mendukung tindakannya tersebut. Tentu saja jika sebuah tulisan mendorong sebuah perubahan yang baik, maka keluaran atau output tindakan yang dilakukan pun akan baik pula. Sehingga pada akhirnya sebuah tatanan yang baik akan mulai tercipta.

Saya tahu Anda pasti akan menguap karena begitu membosankannya tulisan ini. Di sinilah kewajiban saya untuk melakukan perbaikan sehingga tulisan yang baik pun dapat pula “menghibur.” Tidak bisa dipungkiri bangkitnya budaya pop di tengah generasi muda, menjadikan daya tarik adalah sesuatu yang penting. Sehingga sangat lumrah jika tulisan yang mengedepankan aspek “menghibur” akan lebih banyak diminati. Namun meski demikian sudah sepantasnya juga sebuah hiburan tidaklah murahan, tetapi berbobot dan berkelas.

Saya masih terus belajar untuk itu.

Written by Rolan Sihombing

July 20, 2012 at 1:32 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: