Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Social Worker, Song Writer, Novelist, Movie Maker, and Cake Shop

leave a comment »

“Jangan buat rencana kecil; rencana kecil tidak punya sihir untuk menggolakkan darah manusia. Buatlah rencana-rencana yang besar; tetapkan sasaran yang tinggi dalam pengharapan dan pekerjaan.” Demikian tutur Daniel Hudson Burnham (1846-1912), seorang arsitek dan perencana kota berkebangsaan Amerika. Ia dikenal pula sebagai pelopor gerakan City Beautiful di seantero Amerika Serikat dan juga kemudian menyebar ke seluruh dunia. Menurutnya kota yang ideal itu selain efisien secara aspek komersial, tetapi juga indah secara penataannya. Idenya tentang pentingnya taman dan juga ruang terbuka di tengah kota, ditiru oleh banyak kota di dunia ini. Salah satu bangunan yang ia rancang dan masih bertahan hingga saat ini adalah Union Station (stasiun kereta api) yang terletak di Washington DC. Foto Union Station bisa dilihat di SINI.

Pertama kali saya bersentuhan dengan mimpi besar ketika Bang Sarman Panggabean pelatih saya di Sekolah Sepakbola Remaja Jakarta memanggil saya di tengah masa jeda dalam sebuah latihan. Kala itu dia bertanya, “Rolan, apa mimpimu?”

Seorang anak berusia kurang lebih hampir 11 tahun yang baru aktif bermain bola selama setahun ditanya mengenai MIMPI oleh salah seorang mantan pesepakbola terkenal Indonesia yang sudah makan asam garam di lapangan hijau. Yang terjadi adalah keheningan. Dan kebingungan. Tak tahu harus menjawab apa.

Karena Bang Sarman Pangabean kembali bertanya, maka inilah jawaban saya kala itu: “Menjadi pemain profesional dan merumput bersama klub Serie A, Napoli.”

“Mengapa kau ingin main di Napoli,” pungkas Bang Sarman.

“Ingin mengikuti jejak Maradona, Bang. Jadi pemain terbaik dunia.”

“Jangan berhenti bermimpi, dan latihan yang keras kalau begitu. Oke?” 

Begitu saja. Tidak ada ledekan dari Bang Sarman. Apalagi pukulan di pundak sambil berkata, “Ah berkhayal kamu!” Tidak ada sama sekali. Beliau hanya mengucapkan kalimat di atas, tersenyum, dan kembali meniupkan peluit tanda latihan dimulai kembali.

Dua tahun sejak obrolan singkat itu pertemuan saya dengan Bang Sarman kembali tidak lagi terjadi lapangan bola, tetapi di sebuah ruangan di RS. Carolus Jakarta dikarenakan saya mengalami patah tulang panggul yang kemudian membuat saya pincang selama lebih kurang 16 tahun. Sejak kecelakaan itu saya tidak pernah lagi bisa bermain bola, berlatih, dan kemudian melihat mimpi besar saya bermain di Napoli menjadi nyata.Tetapi pengalaman singkat saya dengan Bang Sarman Panggabean mengajarkan tentang keberanian untuk bermimpi dan bekerja keras mewujudkan mimpi itu.

Perjalanan Mimpi

Perjalanan hidup kemudian membawa saya kepada sebuah dunia yang sama sekali berbeda dengan apa yang saya bayangkan, dan juga apa yang orang lain harapkan kepada saya. Dunia teologi. Sekolah pendeta. Saya masih ingat bahkan guru agama Kristen di SMUN 36 menertawakan keinginan saya untuk masuk sekolah teologi. “Mau makan apa kamu, Lan?” demikian komentarnya sembari melanjutkan tertawanya dengan makin keras.

Sangat berbeda dengan respon Bang Sarman Panggabean.

Impian saya ketika baru menjejakkan kaki ke kampus teologi kala itu masihlah naif, lugu, dan tidak spesifik. Ketika orang-orang bertanya, “Kenapa mau masuk sekolah Pendeta?” Respon saya pasti: “Ya, ingin melayani Tuhan.” Terlalu global, dan sok mulia. Betul, SOK MULIA.

Tetapi sebuah buku yang saya beli pada tahun 1999 menyadarkan saya dari keluguan yang palsu selama tahun-tahun awal di kampus. Buku itu berjudul “Isu-isu Global” yang ditulis John Stott. Buku itu berisikan isu-isu saat ini yang terjadi di dunia, dan apa respon seharusnya dari seorang pemimpin Kristen untuk menjawab isu-isu tersebut. Sewaktu saya sering dinas ke luar kota, buku tersebutlah yang kerap kali saya sertakan di koper saya. 

Saya ingat air mata saya jatuh bercucuran ketika membaca kisah The Elephant Man yang dikutip oleh John Stott. Hati saya kemudian terasa panas karena dampak dari kemiskinan kepada orang-orang yang terbelenggu di dalamnya. Dan kembali air mata saya jatuh menetes ketika saya mengetahui terjadi pembiaran oleh gereja Jerman ketika Adolf Hitler mengumumkan rencana “The Final Solution” yang kemudian menewaskan kurang lebih 6 juta orang Yahudi.

Hal-hal ini tidak boleh terjadi lagi. Tidak di masa ketika saya kelak menjadi seorang pemimpin, ujar saya dalam hati kala selesai membaca buku itu di tahun 1999. Sejak saat itu, saya berubah haluan. Dari sekedar sebuah tujuan yang terlalu meluas, yaitu melayani Tuhan, menjadi seorang pekerja sosial yang akan berteriak-teriak: “Itu tidak bisa dibenarkan!” di tengah-tengah praktek ketidakbenaran dan pembiaran.

Waktu berjalan, dan tidak satu senti pun saya mendekat pada mimpi saya untuk menjadi Social Worker. Malah yang terjadi kemudian adalah sebuah peristiwa paling gelap dalam hidup saya. SKORSING! Kala itu hidup saya benar-benar sampai titik nadir, dan untuk menyambung hidup bahkan saya menjadi kenek angkot.

Singkat cerita, saya kemudian diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah pelayanan anak di sebuah gereja. Di sinilah lagu-lagu mulai tercipta. Dulu sekali sewaktu saya SMP, saya pernah menciptakan sebuah lagu yang berjudul nama seorang adik kelas di SMP. Lagu itu diciptakan karena saya memang mencintainya meski cinta yang ada kala itu masih cinta kanak-kanak.

“Lagu ini akan jadi hits. Dan Olan akan jadi pencipta lagu terkenal suatu hari nanti, ” ujar saya kepada orang-orang di rumah.

Jadi pencipta lagu terkenal.

Saya masih ingat muka masam Opung boru (nenek dari pihak Papa) saya yang bosan mendengar lagu itu setiap hari saya nyanyikan. Sampai-sampai Opung kala itu berkomentar: “Ah, kau cuma berani dengan lagu di dalam rumah pula. Pasti kalau di depan orangnya, hanya diam seribu bahasa.”

Seratus buat Opung. Betul, betul, betul!!!

Kembali ke cerita saya ketika lagu demi lagu kembali tercipta oleh saya. Walau sebagian masih belum dipublikasikan, karena sebagian besar memang untuk konsumsi pribadi, tetapi pengalaman ini membawa sebuah kebenaran baru: LAGU dengan LIRIK yang BENAR, bisa merubah PEMIKIRAN seseorang. Dan ini sesuatu yang bisa saya lakukan!

Dalam beberapa kesempatan, saya pun dipercaya untuk membuat beberapa skenario drama musikal dan juga drama-drama singkat. Sebuah dunia baru yang berlawanan dengan kecenderungan gaya penulisan saya yang cenderung kaku dan teoritis. Buku demi buku tentang menulis kreatif saya lahap dengan rakus. Belum lagi novel-novel dengan pelbagai genre, sudah menjadi daftar bacaan wajib saya. Dan beberapa pelatihan tentang menulis kreatif pun pernah saya ikuti. Itu semua saya lakukan demi sebuah karya drama yang menghibur dan mendidik sekaligus.

“Jika seorang J.K. Rowling bisa membuat Harry Potter, Anda pun bisa membuat tokoh-tokoh fiktif, dan mengumpulkannya untuk saling berinteraksi dalam sebuah cerita pendek, novel, pertunjukan teater, bahkan film, ” demikian pernyataan Mas Garin Nugroho dalam sebuah sesi yang saya ikuti.

Hmmm, menjadi penulis novel dan pembuat film. Terima kasih Mas Garin, buat mimpi barunya.

Sebuah undangan dari himpunan mahasiswa Papua di Bandung diutarakan oleh salah seorang pengurus sebuah organisasi kepemudaan tempat saya belajar berorganisasi secara formal. Saya pun pergi menghadiri undangan yang membicarakan masa depan Papua. Fakta-fakta mengejutkan diutarakan oleh narasumber kala itu. Salah satunya adalah pembunuhan seorang pemuda baik-baik oleh tentara di kawasan tambang emas. Pemuda yang hanya kebetulan lewat daerah itu, meregang nyawa di tangan oknum berseragam yang sejatinya dibayar negara untuk melindungi si pemuda itu.

Sepulang dari tempat itu, saya marah. Buku John Stott seperti menampar saya yang sudah mulai nyaman dengan kehidupan yang aman dan nyaman di dalam tembok gereja. Sepanjang perjalanan pulang ke tempat kos, air mata saya bercucuran karena saya dibungkam oleh uang, fasilitas, dan popularitas di mimbar gereja. “Ini sesuatu yang tidak boleh dibenarkan!” Kembali kata-kata itu bergema merobek kemapanan badaniah yang sudah saya biarkan menyergap masuk dan merusak saya.

Oleh karena kemurahan Sang Khalik, saya diterima bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan Kristen yang bergerak dalam pengembangan anak-anak miskin secara holistis. Saya bangga dan bahagia bisa mendapati mimpi menjadi pekerja sosial pun akhirnya terwujud. Realita demi realita kemiskinan pun saya jumpai. Berulang kali saya menangis di tengah belenggu kemiskinan yang jahanam.

Sebuah kamar sempit seukuran 2×3 meter menjadi tempat tidur ayah, ibu, dan tiga anaknya.

Sebuah keluarga mengkonsumsi ubi liar dan dedaunan dari hutan untuk makanannya sehari-hari. Daging adalah keistimewaan yang mereka bisa dapatkan setahun sekali kala hari raya keagamaan.

Seorang anak harus mengubur impiannya menjadi dokter hanya karena tidak ada kesempatan baginya mendapatkan beasiswa. Anak ini merupakan keturunan penjahat kelas kakap, namun sangat menyayangi dan berbakti pada ibunya. Karena tidak ada biaya, sang tulang punggung keluarga ini hanya jadi pesuruh. Bukan dokter.

Seorang anak yang sangat berbakat dalam bulutangkis, ditinggal ayahnya yang tewas tersengat listrik saat bertugas. Untuk membantu ibunya, ia harus bekerja dan menggantungkan raketnya.

Saya tahu saya ada di tempat yang tepat. Tapi kemudian karena sebuah kesalahan yang seharusnya tidak saya lakukan, saya keluar dari perahu impian saya.

Namun kemudian kegemaran saya menulis cerita menjadi sumber penghasilan saya selepas dari organisasi kemanusiaan tersebut. Buku-buku tentang menulis kreatif, penyutradaraan, dan pembuatan film ternyata menjadi peluru-peluru yang bisa termanfaatkan. Dalam waktu 3 minggu, naskah sebuah acara pengembangan karakter anak sebanyak 5 episode terselesaikan. Dan keponakan saya sangat menyukai acara itu.

Richard Buntario, idola saya masa remaja pun menjadi teman kerja.

Hari ini saya sedang menatap sebuah era baru dimana saya dikembalikan kepada mimpi awal saya, yaitu pekerja sosial. Sebuah tanggung jawab yang cukup berat menanti saya di salah satu kabupaten di Indonesia Timur. Memayungi anak-anak, dan memastikan anak-anak tersebut mendapatkan haknya untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dream The Impossible

Kembali kepada pernyataan Daniel Hudson Burnham: “Jangan buat rencana kecil; rencana kecil tidak punya sihir untuk menggolakkan darah manusia. Buatlah rencana-rencana yang besar; tetapkan sasaran yang tinggi dalam pengharapan dan pekerjaan.” 

Ketika saya bercermin pada kisah-kisah di masa lalu, saya mendapati betapa “angkuhnya” mimpi saya. Tetapi saat ini, sama sekali tidak terucap sesal karena saya telah bermimpi menjadi:

  1. Social Worker.
  2. Song Writer.
  3. Movie Maker.
  4. Novelist.

Mimpi nomer 1, 2, dan 3 sudah mulai terkuak. Lambat laun di kemudian hari, 3 mimpi itu bukan lagi sebuah impian remaja dan masa muda, tetapi akan jadi nyata.  

Mimpi nomer 4, masih dibuahi.

Cake Shop

Hari ini sudah hampir 10 orang yang bertanya: Cake Shop? Apa hubungannya?

Ini mungkin mimpi terliar saya setelah mimpi ingin bermain di klub Napoli. Tapi begini ceritanya.

Semua ini diawali dengan kesulitan mencari tempat ngobrol dengan sang pujaan hati yang pernah hadir sangat lama dalam hidup saya. Karena saat itu dia masih anak sekolah dan saya anak asrama yang masing-masing memiliki jam wajib “masuk kandang.” Dan saat-saat pertemuan itu selalu di waktu-waktu yang serba “nanggung.” Maksudnya, jika pergi menonton akan pulang kesorean, dan jika pergi ke restoran dia akan terlalu kenyang sampai rumah dan masakan di rumahnya akan mubazir. Lagipula saat itu dikhawatirkan badan kami akan semakin membengkak jika terlalu sering makan di restoran yang terjangkau untuk kantong anak kuliahan, yaitu KFC paket hemat.

Akhirnya yang jadi juruselamat kala itu adalah sebuah kedai donat “D****ns Donut” yang terletak di sebelah mesjid di daerah Dalem Kaum. Cukup memesan dua donat dan segelas lemon tea, dan pembicaraan pun terjalin hangat. Tidak sampai 15 ribu rupiah kala itu.

Yang lebih berkesan adalah di toko donat itulah keempat mimpi itu semakin disemai lewat diskusi serius dan candaan heboh di antara kami. Waktu yang hanya 2 jam itu menjadi detik-detik paling bermakna dalam hidup saya. Bukan karena sekedar duduk dengan sang pujaan hati, tetapi pembicaraan yang terjadi memaksa saya untuk memimpikan yang mustahil dan bekerja sekeras mungkin agar semua tercapai.

Saya bersyukur dia pernah hadir di masa mimpi-mimpi itu masih berupa embrio. Pemikirannya yang cerdas namun sederhana membuat mimpi itu seakan-akan sangat mudah dicapai. Tetapi kekhawatiran dan komentarnya yang sering pedas ditambah keinginan saya untuk membuktikan diri, menjadikan tekad saya berlipat-lipat untuk mewujudkan semua itu.

Tak jarang karena kehadirannya, saya meregangkan semua batas-batas kemampuan saya agar mimpi-mimpi itu tidak sekedar mimpi. Saya belajar lebih keras bukan karena ingin jadi mahasiswa terpintar di kelas, tetapi agar mimpi tersebut kelak bisa menampung dirinya. Saya tidur lebih malam bukan karena ingin dicap rajin oleh teman-teman, tetapi agar hari-hari mengejar mimpi semakin cepat terlewati.

Betul kata pepatah, cinta kuat seperti maut bahkan air yang banyak tak dapat menghanyutkan cinta.

Suatu hari kelak sebuah cake shop yang nyaman akan menjadi tempat bersemainya mimpi-mimpi yang lain. Dan akan jadi tempat untuk ikrar dan janji untuk masing-masing menjadi orang yang lebih baik bagi pujaan hatinya.

Sebuah cake shop tempat seorang tua tersenyum diam-diam melihat kebahagiaan cinta-cinta muda usia yang bersemi.

*Sekali lagi, ini tentangmu. Terimakasih untuk semuanya.*

Written by Rolan Sihombing

July 18, 2012 at 12:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: