Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Ideologi Jomblo (Part 2)

leave a comment »

Sekarang gue akan melanjutkan tulisan tentang Ideologi Jomblo. Sebelumnya gue pengen menjelaskan kenapa gue memilih judul Ideologi Jomblo. Ideologi sendiri memiliki arti sebagai cerminan cara berpikir orang atau masyarakat yang  sekaligus membentuk orang atau masyarakat itu menuju cita-citanya. Ideologi  merupakan sesuatu yang dihayati menjadi suatu keyakinan. Ideologi merupakan  suatu pilihan yang jelas membawa komitmen (keterikatan) untuk mewujudkannya.  Semakin mendalam kesadaran ideologis seseorang, maka akan semakin tinggi pula  komitmennya untuk melaksanakannya.

Jadi Ideologi Jomblo adalah keyakinan gue tentang pola hidup jomblo yang semestinya. Ideologi Jomblo adalah cara berpikir gue mengenai arti dari sebuah status jomblo yang (terpaksa) gue sandang sekarang.  Ideologi Jomblo adalah virus keyakinan dalam diri gue dalam melakoni masa jomblo-sisasi.

Sekedar flash back ke tulisan gue yang sebelumnya, yaitu tentang kisah parno gue terhadap cowok-cowok KW yang lemah gemulai dan berjari kelingking nge-trill, gue meyakini kalo menjadi HOMO alias menyukai sesama jenis bukanlah solusi untuk berhenti JOMBLO. Sekali lagi gue tekankan, HOMO bukan penyelesaian akhir untuk mengakhiri status JOMBLO.

Sekarang lupakan soal cowok KW. Bagian kedua dalam tulisan ini dibuat untuk menyanggah pandangan miring yang kedua dari orang-orang tentang kejombloan gue. Banyak yang bilang gue jomblo karena terlalu memilih-milih. Barusan juga gue dapat mesej di inbox FB gue, dan mesej itu berisi nasehat supaya gue jangan terlalu milih-milih. “Segera menikah, Pak. Yesus mau datang, kiamat sudah dekat,” demikian isi mesej itu.

Seorang teman gue yang lain juga mengatakan begini: “Elo udah tua. Udah gak usah terlalu milih-milih jodoh. Nanti saking tuanya elo nikah, si abang gak bisa berdiri lagi.”

Seorang pengurus gereja juga pernah ngomong begini ke gue: “Semua cewek itu bunyinya sama bro. Baunya pun juga sama. Jadi gak usah terlalu milih-milih, toh lama-lama bakal turun mesin juga mereka.”

Untuk pendapat yang barusan, gue sangat menyayangkan kalo itu keluar dari mulut seorang aktivis gereja. Berarti orang itu secara eksplisit sangat merendahkan nilai seorang wanita. Wanita dalam pandangan orang cetek seperti itu hanya diukur dari bunyi yang dikeluarkan saat berhubungan seks. Ampun deh orang Kristen zaman sekarang!!!

Sob, gue akui gue pemilih. Gimana gak pemilih? Pernikahan itu sekali seumur hidup. Pernikahan itu bukan seperti pakaian yang harus kita ganti setiap hari. Soal komitmen dengan pasangan seumur hidup sampai maut memisahkan, gue gak habis pikir dengan selebritis kita yang doyan banget kawin cerai. Suami pertama si A, bosan lalu cerai. Gak berapa lama, eh tuh orang kawin dengan si B. Lalu berantem, merasa udah gak cocok lagi, lalu cerai lagi. Terus karena galau lalu mainlah ke diskotik, eh ketemu cowok ganteng, lalu hamil duluan dan kawin lagi.

Pernikahan bukan seperti itu, menurut ideologi gue. Sampai maut/kematian memisahkan kita. Susah sob untuk melakoni pernyataan itu.

Maka dari itu, gue sangat pemilih. Lebih baik gue menunda menikahi seseorang dan menjadi jomblo, daripada karena didesak-desak orang lain untuk menikah tapi kemudian ternyata pernikahan gue kemudian kacau balau. Gue harus sangat memilih, karena gue pengen tua bersama dengan istri gue kelak.

Pertanyaan selanjutnya, gue memilih yang seperti apa? Menurut gue ada 3 kecenderungan orang-orang pada umumnya dalam sebelum mereka memutuskan untuk menikah, yaitu:

  1. Karir yang mapan.
  2. Paras yang lumayan.
  3. Hati yang nyaman.

Ketiga kecenderungan itu logis dan rasional menurut gue, walaupun tidak sepenuhnya bisa dibenarkan juga. Tetapi mari kita bedah satu persatu.

KARIR/KEUANGAN YANG MAPAN. Siapapun tentu ingin menikah dan hidup dengan mapan di kemudian hari. Makan sepiring berdua dan hidup susah tetapi asal saling cinta, itu sudah lagu usang sob. Jangan mau dikadalin sama film-film roman picisan, yang karena ditentang orangtua lalu kawin lari dan hidup susah. Lalu kemudian setelah anak lahir, lalu orangtuanya datang minta maaf, bertangis-tangisan dan kemudian merestui pernikahan anak dan mantunya, lalu kemudian orang tua itu mewariskan perusahaannya kepada anak dan mantunya itu. Itu bohong!!! Cuma ada di film kisah yang kayak begitu.

Gue termasuk orang yang memasukkan karir/keuangan yang mapan sebagai kriteria calon teman hidup gue. Mungkin elo bakal ngomong, “Ah ngimpi lo cuy!” Gak apa-apa, tetapi hidup zaman sekarang makin mahal sob, dan jika di dalam satu rumah tangga hanya salah satu pihak yang mencari nafkah, maka biaya sekolah, biaya dapur dan biaya kesehatan bakal susah terkejar.

Mungkin di antara elo yang baca bakal tertunduk sedih karena calon pasangan elo cuma karyawan rendahan, atau malah gak kerja alias pengangguran. Saran gue, kalo bisa elo putusin, putusin aja. Sadis!! Gak apa-apa sadis bro, tetapi pernikahan bukan cuma soal elo dan pasangan elo, tapi juga soal nasib dan masa depan anak-anak elo bro. Tapi kalo elo dan pasangan elo sudah sangat saling mencintai, ditambah ortu sudah sangat setuju, jangan berpisah teman. Berarti Tuhan mau menguji kekuatan cinta elo lewat pelbagai kesulitan secara finansial di awal-awal pernikahan elo. Yang harus elo lakukan adalah selain bekerja keras, banyak berdoa, tetapi mulai berpikir untuk berwirausaha. Kecil-kecilan dulu gak apa-apa sob, misal kayak jualan mukena pas bulan Ramadhan, atau juga jual kue donat kelilingan dan dititip ke warung-warung kecil. Asalkan jangan jual narkoba aja ya coy, haram!

Gue menunda menikah karena gue ingin stabil dulu secara finansial, dan gue pun mencari calon istri yang nantinya gak terlalu mengandalkan gaji gue untuk biaya hidup sehari-hari. Dengan kata lain, calon istri gue harus punya penghasilan sendiri. Soalnya gue udah punya tanggungan sob. Empat keponakan gue harus disekolahin sampai jadi tukang insinyur, dan calon istri gue harus mengerti kalo kemungkinan separuh penghasilan gue bakal dialokasikan untuk masa depan 4 keponakan gue.

PARAS YANG LUMAYAN. Gue dari SMP selalu suka cewek dengan tipe wajah seperti Dian Sastro. Terlihat remaja selalu, tetap cantik tanpa polesan make up yang berlebihan, dan senyumnya bikin dengkul lemes. Plus satu lagi, gue nyaris lupa: tetap cantik meski baru bangun tidur. Seperti foto Dian Sastro yang ini.

Okelah mungkin Dian Sastro standarnya terlalu tinggi. Lagipula gadis-gadis dengan paras seperti Dian Sastro biasanya pasti sudah punya pacar. Mana mungkin cowok melewatkan cewek cantik seperti Dian Sastro. Dan untuk ngedapetin yang seperti Dian Sastro,  antriannya pasti panjang cuy, lebih panjang daripada antrian mobil di pintu tol Kuningan setiap pagi.

Pasti elo juga berpikir kalo gue sadis dan gak mikirin perasaan cowok cewek berparas standar yang kebetulan baca tulisan ini. Bagi mereka berarti gak ada kemungkinan untuk kawin dong. Tunggu dulu sob. Gue yakin jodoh setiap orang itu udah diatur Tuhan Yang Maha Adil. Termasuk untuk yang berwajah rata-rata (bukan berwajah rata).

Tetapi kita juga gak bisa mengesampingkan faktor tampang sebagai pertimbangan untuk memilih. Gue pun bakal memilih yang cantik, kalo kebetulan ada cewek cantik yang lagi dekat dengan gue. Namun gue percaya ini: Paras wajah seseorang itu biasanya refleksi dari kecantikan yang ada di jiwa orang tersebut.

Ada orang yang mungkin mukanya biasa aja, tapi tutur katanya sopan dan karakternya juga bagus pasti wajahnya bakal terlihat sangat cantik. Gue udah sering bertemu dengan cewek-cewek yang begini. Mukanya gak sedahsyat Dian Sastro, biasa aja. Tetapi waktu dia senyum, alamak! Cantik banget. Lalu waktu dia bicara, hmm wawasannya luas, kritis pemikirannya, diajak ngobrol apa pun nyambung, wow itu cewek langsung kelihatan cantik. Beneran sob, pada akhirnya kecantikan itu gak cuma terlihat dari paras, tetapi jauh lebih penting dari itu kecantikan itu bersumber di kedalaman jiwa.

HATI YANG NYAMAN. Sebuah hubungan yang terjalin pasti tujuannya adalah untuk kenyamanan hati. Biasanya kita akan memacari seseorang yang memahami kita bahkan saat kita tidak berbicara dan mengungkapkan keinginan kita. Atau seseorang yang bisa membuat kita merasa aman, dan tidak menaruh kecurigaan pada orang tersebut meski jauh.

Kebetulan gue memiliki kepribadian yang suka dengan keamanan dan menghindari konflik. Bagi gue ketika konflik datang, maka seringkali itu gue anggap bencana. Oleh karena itu sebisa mungkin gue menjaga stabilitas dalam segala aspek kehidupan gue.

Dalam kepemimpinan misal, gue akan berusaha membuat bawahan ataupun sesama rekan kerja selalu dalam keadaan aman, tentram, dan terkendali. Biasanya untuk menjaga kestabilan ini, gue bakal mengedepankan kepentingan mereka, membela hak mereka, dan juga berusaha memahami mereka layaknya seorang sahabat. Dan jika misalkan tanpa diduga-duga konflik di antara mereka datang, maka yang timbul adalah reaksi panik gue yang kemudian berujung pada porak porandanya kinerja serta tim secara keseluruhan.

Demikian pula dalam mencari pasangan, gue pasti mengedepankan stabilitas alias pasangan yang sudah stabil secara kejiwaan. Kayaknya bakal terjadi musibah jika gue memacari ABG labil yang manja, menuntut perhatian, plin-plan, emosional, egois, childish, dan dangkal. Apalagi jika kemudian gue memacari seorang drama queen yang suka mendramatisir semua hal. BENCANA!!!

*Kebanyakan cewek-cewek penggemar film Korea punya kecenderungan jadi drama queen, kata teman gue yang psikolog lho.*

Gue pernah beberapa kali dekat dengan cewek yang stabil, dan bahkan salah satunya jadi the best girlfriend. Bahkan seringkali tanpa bicara, dia bisa memahami kegelisahan pikiran dan hati gue. But she’s with someone else now. Hiks! Tetapi it’s OK, karena gue tahu dia bersama yang terbaik sekarang. Aaaarrrgggh, jadi beneran curcol gue!

Kembali ke tag line gue di awal: Lebih baik memilih calon pasangan dengan hati-hati dan menjadi jomblo, daripada menikah karena didesak orang-orang dan memilih dengan sembrono, namun kemudian pernikahan tersebut jadi kacau balau. Jadi tidak masalah jika kita memilih dengan hati-hati. Tutup kuping saja dengan suara orang-orang yang mendesak kita untuk tidak terlalu memilih dan segera menikah. Pernikahan bukan sekedar SEKS, tetapi komitmen seumur hidup untuk melalui tawa dan airmata sampai maut memisahkan.

Itulah ideologi jomblo yang kedua.

Besok, ideologi jomblo yang ketiga akan ditayangkan di blog ini. Tunggu kelanjutannya!😀

Written by Rolan Sihombing

July 12, 2012 at 1:08 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: