Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Ideologi Jomblo (Part 1)

leave a comment »

Padahal barusan gue janji kalau hari ini bakal menulis sesuatu yang serius. Tapi berhubung peristiwa pernikahan adik gue masih membawa nuansa biru dan galau di hati gue, jadilah tulisan ini ditayangkan. Gimana gue gak galau, adik bungsu gue duluan nikah!!! Secara psikologis, gue terguncang banget. Tapi mungkin karena faktor usia gue, jadi efek goncangannya baru sekarang.

Terkait dengan 100 orang lebih yang selalu bertanya: “Kapan elo nikah?” maka tulisan ini dibuat dengan sengaja untuk menyanggah pandangan miring orang yang mengira gue sebagai berikut:

  1. Penyuka sesama jenis.
  2. Terlalu pemilih.
  3. Patah hati yang berlarut-larut.

Yang pertama, gue bukan penyuka sesama jenis. Gue masih ngeces tiap kali lihat DIAN SASTRO, meski sekarang doi udah ibu-ibu. Gue rasa Dian Sastro kalo udah umur 70 tahun, pasti masih cantik. Dian oh Dian…

Lupakan Dian Sastro. Gua mau menyanggah anggapan orang kalo gue cowok KW (meminjam istilah @Mongol_Stres) dengan memberitahu rahasia kalo gue parno banget dengan yang namanya cowok KW. Ada dua kisah yang menyebabkan gue parno ama cowok-cowok lemah gemulai dengan jari ngetril.

Kisah pertama dimulai waktu gue SMP kelas 1. Saat itu perut gue masih rata dan kotak-kotak sob, dan gue masih bisa melihat jari-jari kaki gue dengan jelas. Beda sama sekarang. Bodi gue yang atletis itu disebabkan saat itu gue masih jadi atlet bola. Nah suatu kali, gue lagi gowes-gowes di sekitar komplek rumah. Persis di ujung komplek, gue berpapasan sama seseorang yang dari jauh gue pikir perempuan, karena dia mengenakan pakaian perempuan. Rambutnya pun panjang, sayangnya mukanya gak kelihatan, karena dia membelakangi gue. Waktu itu gue masih bocah, dan masih belum sedikit pun punya rasa tertarik ke cewek. Jadi gue ngegowes pun lempeng-lempeng aja.

Lalu terjadilah tragedi itu. Orang yang dari belakang gue kira perempuan, memalingkan wajahnya ke belakang dan persis langsung menatap gue. Di situlah gue melihat muka paling aneh sedunia. Hidung dan dagunya mancung kayak Si Sirik musuhnya Nirmala Juwita di majalah Bobo. Dandanannya menor banget; lebih menor daripada ondel-ondel yang biasa gue lihat di PRJ. Dan si orang aneh ini lalu mencubit paha gue yang berotot sambil berkata, “Duh nek, pahanya putih banget sih! Jadi nepsong deh eike.” Mendadak gowesan gue terhenti. Berasa kayak diseruduk 1000 banteng.

Gue lupa apa yang terjadi selanjutnya, karena itu kenangan yang teramat sangat buruk dalam hidup gue. Yang pasti sejak kejadian itu, dua minggu gue gak berani keluar rumah.

Lanjut kisah kedua. Ini terjadi sewaktu gue udah jadi mahasiswa dan dapat tugas praktek di sebuah kota di Jawa Tengah. Nah, gue punya rambut ini rada susah. Kalo salah potong, rambut gue bakal berdiri kayak orang kesetrum. Dibotakin, kepala gue bakal kelihatan kecil. Dibikin model belah samping, gue bakal kelihatan kayak HARMOKO yang terkenal dengan rambut belah pinggirnya. Kalo dipanjangin, gue bakal kelihatan kayak cowok KW. Jadi karena itu, gue biasanya potong rambut di barber shop langganan gue. Di Jakarta ada 1, di Bandung pun ada 1.

Seminggu gue praktek di kota getuk itu, gue nyadar kalo gue lupa potong rambut sewaktu di Bandung. Jadi gue tanyalah ke Pendeta tempat gue praktek dimana salon atau barber shop yang rada bagus di sana. Dan gue pun dianter ke salah satu salon yang dia bilang bagus dan hasil potongannya trendi. Gue masuklah ke salon itu kan, ber-AC pula. Dan intuisi gue juga merasa ada yang aneh dengan salon itu.

Lalu kucluk kucluk kucluk, datanglah si pemilik salon. Cowo tinggi, rambut belah tengah, dan berkumis tipis. Seperti yang gue bilang di atas, gue parno sama banci, jadi gue udah bisa membedakan yang mana banci dan yang mana cowok. Gue sengaja belajar secara khusus untuk membedakan antara banci dan cowok, maksudnya supaya bisa kabur kalo ketemu banci lagi.  Nah yang gak gue tahu adalah banci yang gak berdandan ala banci tapi bergaya ala cowok yang macho.

Dan gue tahu tentang cowok KW yang bergaya macho waktu gue di salon itu. Si pemilik salon bukannya memotong rambut gue, malah sering megang-megang bahu gue. Sesekali dia membelai kepala gue sambil tersenyum manis. Mulailah dia bilang kalo gue ini ganteng banget kayak Ari Wibowo. Terus dia juga nanya apakah gue punya pacar atau enggak. Dan yang lebih parah, dia mengambil gunting lalu menggesek-gesekkan gunting itu ke kuping dan leher gue. Saat itu gue tahu kalau “bokong” gue terancam.

Gue pun mencari alasan supaya cowok KW itu bisa pergi ke dalam rumahnya, lalu gue bisa kabur. Tapi terus terang parno gue membuat otak buntu. Gue udah hopeless waktu itu. Gue pikir inilah saatnya gue bakal diperkosa sama bencong. Eh tiba-tiba ajaib sob, telepon rumahnya berbunyi. Dia sempat teriak manggil pembantunya untuk menjawab panggilan telepon itu. Karena telepon terus berdering, dia pun terlihat dengan terpaksa dan sedikit ngedumel pergi ke dalam rumahnya untuk menjawab panggilan telepon itu. Waktu dia mengangkat telepon itu, gue pun langsung kabur.

Gila. Gue nyaris diperkosa banci!!!

Dari dua cerita itu, jelas terbukti gue bukan cowok KW. Gue NORMAL.

Lalu mengapa gue di usia setua ini masih jomblo?

Nah untuk menjawab ini, gue bakal cerita di bagian kedua dari tulisan ini.

Sob, gue tegaskan sekali lagi kalo gue bukan gay, bukan homoseksual, banci, ataupun bencong. Gue masih punya keyakinan (baca: ideologi) kalo I Just Haven’t Met Her Yet. Jadi kalo di antara elo yang membaca tulisan ini masih berstatuskan JOMBLO, bukan berarti kemudian elo memilih jalur alternatif alias menyukai sesama jenis. Bagaimana pun juga elo harus bertahan pada ideologi kalo di luar sana ada jodoh terbaik yang Tuhan siapkan untuk elo.

Itu ideologi jomblo bagian yang pertama.

Written by Rolan Sihombing

July 11, 2012 at 12:28 am

Posted in Curcol, Humaniora

Tagged with , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: