Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Adikku (Akhirnya) Menikah

leave a comment »

Tiga hari terakhir ini merupakan hari-hari penuh kesibukan menjelang persiapan pernikahan adik saya yang bungsu, Meilan Rismawati Sihombing. Pernikahan Lani, demikian kami sekeluarga kerap memanggilnya, akan diadakan pada Sabtu, 7 Juli 2012 dengan diawali acara pemberkatan di GKJ Jakarta, Jln. Balai Pustaka Timur No. 1, Jakarta Timur; dan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di Gedung Sanggita Satsik Denmabes Polri Jln. Cipinang Baru Raya No. 1 Jakarta Timur.

Lani dan Wahyu, calon suaminya, sebenarnya sudah saling mengenal sejak SMP. Mereka berdua bersekolah di SMP Budhaya 2 Cipinang Kebembem, sekolah dimana saya juga mengenyam pendidikan menengah pertama. Meski mereka sudah mengenal sejak lama, tetapi kemudian mereka dipertemukan kembali setelah 11 tahun kemudian lewat Facebook. Ya, ternyata Facebook pun bisa jadi “mak comblang” yang cukup ampuh.

Image

Setelah menjalin hubungan pacaran selama beberapa saat, akhirnya Wahyu pun memberanikan diri melamar Lani. Dan “eng ing eng” dalam hitungan hari upacara “belah duren” pun segera mereka laksanakan. LOL.

Ide tulisan ini diawali karena kakak perempuan saya, Mery Sihombing, meminta saya mempersiapkan pidato mewakili keluarga pada acara peneguhan pernikahan yang diadakan pihak gereja yang akan menjadi tempat upacara pemberkatan. “Karena kamu laki-laki satu-satunya, dan penerus marga Sihombing, maka jika seandainya ada acara pidato dari masing-masing keluarga, kamu saja yang maju mewakili Mama dan kakak,” demikian kata kakak beberapa saat sebelum acara dimulai.

Dengan segera saya menuliskan beberapa pokok pikiran yang akan saya sampaikan dalam pidato mewakili pihak keluarga calon mempelai wanita. Dan kurang lebih seperti inilah pidato yang saya susun dalam waktu singkat.

Hakekat Pernikahan

Pernikahan bukanlah sekedar sebuah acara seremonial untuk peresmian sebuah hubungan antara pria dan wanita yang sudah saling mencinta. Pernikahan adalah sebuah proses “Dua Menjadi Satu.” Dua individu yang berbeda secara kepribadian, karakter, watak, pola pikir, budaya, kebiasaan, pola asuh, dan perbedaan-perbedaan lainnya menjadi satu daging, satu jiwa, dan satu roh di dalam sebuah ikatan pernikahan. Dan proses serta pengalaman menjadi satu ini tidaklah mungkin dicapai dalam sekejap. Butuh waktu yang tidak singkat. Proses pembelajaran yang harus dilakukan seumur hidup.

Itulah yang dalam hemat saya merupakan sebuah tugas yang “sulit.” Jangankan menjadi satu dengan suami atau istri, kadang-kadang untuk menjadi “satu” dengan saudara kandung kita sendiri pun sulit. Sebagai contoh perbedaan antara saya dan Lani. Saya adalah orang yang cukup “berantakan” dalam meletakkan barang-barang pribadi, sedangkan Lani adalah orang yang rapi. Lani senang bersih-bersih, sedangkan saya suka mengotori. Lani irit, sedang saya boros. Perbedaan-perbedaan itulah yang sering menjadi pertengkaran kecil-kecilan di antara kami berdua.

Dengan adik yang sudah 29 tahun ada di hidup saya pun kerap kali terjadi pertikaian akibat perbedaan, apalagi jika kemudian Lani harus menjadi satu dengan pria yang mungkin baru ia kenal selama 3 tahun. Saya tidak bisa dapat membayangkannya. Tetapi itulah seni pernikahan; dua orang menjadi satu.

Mengapa dua orang harus menjadi satu? Salah satu nasehat bijak yang pernah saya baca berkata seperti ini: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi malanglah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bila seorang sendirian dapat dikalahkan, tapi dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Dalam sebuah film yang cukup terkenal yaitu Cast Away; dikisahkan seorang pegawai FedEx Chuck Nolan yang diperankan oleh Tom Hanks, terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Namun kemudian sebuah bola voli dengan merk Wilson pun dijadikan teman bicara Chuck Nolan. Wilson sang bola voli yang digambari wajah orang akibat darah yang membekas di bola voli tersebut, kemudian menjadi obat pengusir kesepian dan juga teman diskusi Chuck Nolan dalam segala hal. Termasuk dalam rencananya untuk meninggalkan pulau tak berpenghuni itu dengan perahu ala kadarnya buatan sendiri. Kemudian ketika Wilson hanyut di tengah lautan bebas, Chuck Nolan pun menangis meraung-raung meratapi kepergian Wilson. Manusia tidak dapat hidup sendiri.

Menikah adalah sebuah ungkapan dari seorang pria dan seorang wanita yang menyadari kalau mereka tidak dapat hidup dalam kesendirian, dan kemudian memilih untuk mengesampingkan perbedaan di antara mereka dan menjadi satu. Satu di dalam tubuh, satu di dalam jiwa dan pikiran, dan satu di dalam roh.

Tujuan “Menjadi Satu”

Tujuan yang sangat luhur di dalam menjadi satu dalam pernikahan adalah agar kedua orang tersebut dapat saling menajamkan pasangannya masing-masing seperti besi yang dapat menjadi tajam jika diasah oleh sesama besi.

Pernikahan adalah proses dua orang yang berinteraksi dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Saling asah, saling asuh, dan saling asih. Suami yang tadinya boros dan bergaya hidup mewah, bisa menjadi pribadi yang hemat dan bersahaja jika diasah oleh istrinya yang terbiasa hemat dan sederhana. Istri yang sering melupakan semua jadwal, agenda, dan hari ulang tahun; akan berubah ketika ia diasah oleh suami yang dibesarkan dalam keluarga yang senang merayakan hal-hal penting dalam kehidupan masing-masing angota keluarganya.

Namun lebih jauh dari itu, proses saling asah, saling asuh, dan saling asih di antara dua individu yang menjadi satu dalam pernikahan, bertujuan menjadikan kedua pribadi itu sebagai mempelai Kristus yang tak bercacat dan tak bercela. Mempelai Kristus yang hidup selaras dan seiring dengan semua perintah-perintah Tuhan.

Lani selama 29 tahun ditempatkan Tuhan dalam asuhan keluarganya, dan ia diasah menurut kehendak Tuhan oleh setiap pengalaman-pengalaman hidup yang ia dapatkan. Dan Sabtu nanti, Lani dengan keberadaannya, kelebihan dan kekurangannya, ditempatkan Tuhan lagi di sisi Wahyu agar ia dapat menjadi wanita yang lebih baik dan berkenan di hadapan Tuhan. Dan sebaliknya Wahyu yang sudah digembleng oleh keluarganya, akan mendapatkan pembentukan-pembentukan dari Tuhan melalui Lani, sehingga ia pun menjadi pria yang lebih baik, suami yang baik, dan papa yang terbaik untuk anak-anaknya kelak.

Akhir kata, selamat menjalani jenjang kehidupan yang baru ya Dek. Sebuah proses menjadi satu dengan suamimu dalam ikatan pernikahan kudus, yang kemudian dari proses tersebut kamu, adinda tersayang, menjadi wanita yang indah di pemandangan mata Sang Khalik.

Tuhan memberkati.

Kurang lebih seperti itulah isi pidato saya. Tapi kemudian ternyata dalam acara peneguhan pernikahan hari ini, ternyata tidak ada kata sambutan dari pihak keluarga calon mempelai pria dan calon mempelai perempuan. Sehingga saya pun terbebas dari tugas berpidato. Horeeee!!!

Written by Rolan Sihombing

July 6, 2012 at 2:10 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: