Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Berhenti Jadi Pengangguran

leave a comment »

Sulitnya Cari Pekerjaan

Mencari pekerjaan itu sangat sulit. Pasti sebagian besar pembaca mengamini pernyataan saya tersebut. Berdasarkan data yang saya dapatkan, terdapat angka pengangguran 6,56 % (7,7 juta) sementara ketersediaan lapangan kerja hanya mampu menampung 1,6 juta. Akibatnya ada sekitar 6,1 juta pencari kerja tidak dapat mengembangkan karirnya atau dengan kata lain masih pengangguran. Data tersebut terungkap dalam acara Meet & Talk yang diadakan PMSM, 26 Januari 2012 di Jakarta.

Image

Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan dari 200 juta orang di seluruh dunia yang menganggur pada awal tahun ini, 40% (74,7 juta) di antaranya adalah kaum muda. Di banyak negara, kaum muda diperkirakan 2,8 kali lebih besar menjadi pengangguran dibandingkan dengan pekerja dewasa. Di Indonesia sekitar 4,6 kali lebih besar.

“Semakin muda usia, semakin susah bekerja, sehingga makin banyak pengangguran,” kata Wendy Hartanto, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Rabu, 11 April 2012. Dalam 10 tahun ke depan, kata Wendy pula, diproyeksikan dibutuhkan 600 juta lapangan kerja untuk mengakomodasi 200 juta angka pengangguran saat ini, ditambah dengan pertumbuhan angkatan kerja baru sebanyak 40 juta orang per tahun.

Berdasarkan data statistik di atas, tak heran jika saya pun harus berjibaku dalam pencarian pekerjaan 6 bulan terakhir ini. Nyaris 60 buah surat lamaran pekerjaan beserta riwayat hidup yang sudah saya layangkan, dan hanya 2 yang dinyatakan lolos secara administratif oleh pihak perekrut. Perasaan rendah diri dan pesimis pun sempat menghinggapi saya ketika seusai wawancara via telepon dari salah satu organisasi kemanusiaan, tidak ada panggilan kembali untuk lanjut ke tahap berikutnya. Sementara di saat yang bersamaan, biaya yang dibutuhkan untuk mengebulkan dapur di rumah pun semakin meninggi. Stress!!!

Namun kemudian setelah melewati proses yang panjang dan berliku-liku, akhirnya beberapa hari yang lalu saya pun mendapatkan sebuah pekerjaan yang cukup mumpuni secara uraian pekerjaan dan finansial. Lega rasanya. Dalam beberapa hari ke depan saya pun akan mengikuti proses orientasi kerja sesuai tata syarat yang berlaku, dan kemudian segera akan diberangkatkan menuju area penugasan.

Manusia Harus Bekerja

Bekerja memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Biasanya orang yang bekerja membagi harinya dalam tiga periode yang kurang lebih sama panjangnya yaitu 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam untuk waktu senggang. Jadi bekerja menempati sepertiga waktu dari satu hari, dan setengah dari waktu melek kita.

Bekerja juga memainkan peranan yang penting juga dicerminkan dari cara kita mencari informasi tentang seseorang dari teman. Pertanyaan seperti ‘Apa kabar si A?’ selalu disusul dengan pertanyaan ‘Apa pekerjaannya sekarang?’ sehingga eksistensi orang tersebut selalu lekat dengan apa yang dikerjakannya.

Namun sebagian orang pun berpendapat bahwa bekerja itu tidak menyenangkan, dan terkadang bekerja itu sesuatu yang kalau bisa harus dihindari. Istilah “I don’t like Monday” dan “Thanks God it’s Friday” merupakan frase yang menunjukkan betapa awal minggu di hari kerja sebagai hal yang tidak disukai, dan akhir minggu di hari kerja sebagai sesuatu hal yang ditunggu-tunggu.

Sebagian orang lagi berpikir bahwa bekerja adalah suatu kewajiban yang tak terelakkan untuk mencari nafkah, dan biasanya perilaku kerja orang dengan pandangan seperti ini pun sesuai dengan “bayaran” yang ia terima. Kerap kali orang dengan perilaku ini akan menolak tambahan pekerjaan di luar jam kerja, dan menuntut sebuah uang lembur meskipun tambahan pekerjaan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari uraian kerja yang bersangkutan. Perilaku yang biasa dilakukan adalah “Jam 4 Teng-GO”, artinya begitu jam kantor menunjukkan pukul 4 sore maka berakhir pula jam kerjanya.

Sikap yang pertama cenderung sangat tidak suka dengan bekerja, sedang sikap yang kedua cenderung mengedapankan jumlah imbalan yang harus diterima. Sikap-sikap tersebut walau sangatlah rasional, tetapi tidak sesuai dengan hakekat bekerja yang sesungguhnya.

Jadi sikap apa yang seharusnya kita miliki dalam bekerja?

Pertama, bekerja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kemanusiawian kita. Dorothy Sayers menyatakan: “Kerja bukanlah sesuatu yang dilakukan orang untuk hidup, melainkan sesuatu yang orang hidup untuk melakukannya.” Kemampuan kita untuk bekerja sejatinya merupakan bagian yang esensial dari kesamaan kita dengan karakter Tuhan yang juga bekerja. Tuhan yang menciptakan kita dalam gambar dan rupaNya, adalah Pribadi yang bekerja dalam penciptaan, dan bahkan juga terlibat dalam pemeliharaan dan keberlangsungan alam semesta ini. Karena kita telah dikaruniai dengan segenap potensi-potensi yang Ia tanamkan pada kita, maka Tuhan pun tentunya menginginkan kita mendarmabaktikan potensi-potensi tersebut melalui aktivitas bekerja.

Ketika kita mengganggur (dan bukannya sibuk) atau bertindak destruktif (dan bukannya kreatif), maka sebenarnya kita sedang mengingkari salah satu unsur asasi dari kemanusiawian kita, menentang kehendak Tuhan bagi kehidupan kita, dan dengan demikian kehilangan sebagian dari eksistensi kita sebagai manusia sejati.

Jika seseorang tidak bekerja, ia tidak ubahnya seperti sebuah smart phone di daerah terpencil yang tidak memiliki sinyal 3G. Hanya sekedar individu dengan “fitur-fitur” yang canggih tapi tak berfungsi.

Kedua, bekerja merupakan pelayanan terhadap sesama manusia. Bekerja bukan saja demi kepuasan batin, tapi juga demi mendatangkan kemaslahatan atau kegunaan bagi masyarakat. Bekerja merupakan proyek kemasyarakatan, yang dilakukan oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat.

Setiap orang yang bekerja pada dasarnya adalah melayani orang lain. Sebagai contoh, seorang tukang batu mengerjakan bangunan rumah untuk pemilik rumahnya. Jika bangunannya bagus, kuat dan tidak menyimpang dari kebutuhan pemilik rumah, berarti tukang batu tersebut telah bekerja dengan baik dan membahagiakan orang lain.

Ketiga, bekerja merupakan bakti kepada Tuhan. Melalui bekerja memungkinkan setiap kita memanfaatkan dan membudidayakan bakat-bakat pemberian Tuhan sebagaimana layaknya seorang penatalayanan yang baik sehingga kemudian kemuliaan Tuhan semakin dapat dinyatakan lewat pekerjaan kita tersebut.

Saya menemukan sebuah anekdot yang cukup menarik tentang ini, dan saya mengamini makna yang tersembunyi di balik anekdot tersebut. Dikisahkan suatu kali seorang tukang taman memperlihatkan keindahan tamannya kepada seorang pendeta. Terpana oleh semarak bunga-bunga aneka warna yang memenuhi taman itu, pendeta spon!tan menaikkan puji syukur kepada Tuhan. Tapi tukang taman itu kurang senang mendengar pendeta itu yang hanya memuji Tuhan. Ia menggerutu, “Bapak seharusnya datang kemari sewaktu Tuhan dibiarkan sendiri mengelolanya. Hasilnya hutan belukar!” Menurut saya tukang taman itu benar. Tanpa ada manusia yang mengelola, setiap taman akan segera berubah menjadi hutan belukar.

Jadi kerja adalah bakti kita terhadap Tuhan, artinya jika dapat melihat bagaimana pekerjaan yang kita emban itu, sekecil apa pun atau secara tidak langsung, menyumbang bagi terealisasinya tujuan Tuhan pada segenap umat manusia.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka bekerja adalah pengeluaran tenaga (manual atau mental atau keduanya) dalam pelayanan terhadap orang lain yang membuahkan kepuasan diri bagi si pekerja, manfaat  bagi masyarakat, dan kemuliaan bagi Tuhan. Inilah alasan sejati mengapa manusia harus bekerja.

Tips Keluar Dari Pengangguran

Meski manusia harus bekerja adalah kebenaran yang tidak bisa dibantah, tetapi fakta di lapangan (sesuai dengan data statistik di awal tulisan ini) menunjukkan bahwa jumlah pertumbuhan angkatan kerja jauh lebih besar daripada jumlah pertumbuhan lapangan kerja. Dan kenyataan yang sangat pahit harus kita terima bahwa pengangguran merupakan pemerkosaan terhadap kemanusiaan. Bagi pengangguran, tidak memiliki pekerjaan dan juga penghasilan merupakan tragedi personal yang sangat pedih di samping tragedi sosial. Para psikolog sering menyamakan pengangguran dengan perkabungan, kehilangan pekerjaan yang dalam banyak hal ada kesamaannya dengan kehilangan saudara atau sahabat.

Tentu pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar bisa keluar dari rantai pengangguran? Berikut tips yang saya kutip dari http://jokotrinugraha.blogspot.com/2012/02/sulitnya-mencari-pekerjaan.html.

  • Bangunlah relasi yang seluas-luasnya. Salah satu kunci keberhasilan mendapatkan pekerjaan adalah memperoleh informasi sebanyak mungkin melalui kawan atau kenalan. Hal ini juga merupakan kesempatan yang baik untuk memperbaiki tali silahturahmi.
  • Mintalah dukungan dari orang-orang terdekat, misalnya orang tua, kakak-adik bahkan mungkin kekasih kita. Dengan adanya dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat, secara psikologis kita menjadi nyaman dan tidak begitu terbebani sehingga mampu melewati masa-masa yang sulit dalam mencari kerja.
  • Buatlah lamaran sebanyak-banyaknya, tetapi jangan terlalu berharap untuk diterima agar kita tidak terlalu kecewa apabila kita gagal nantinya. Ibarat orang yang sedang memancing ikan, agar mendapatkan ikan yang banyak tentu perlu menyebar umpan yang sebanyak-banyaknya.
  • Berusaha menciptakan peluang disekitar kita. Masa menganggur adalah masa yang berat tetapi tidak seharusnya kita terus meratapi nasib. Banyak cara untuk memperoleh penghasilan selagi kita menunggu panggilan kerja. Menulis, misalnya, dengan rajin membaca dan berlatih tentu bukanlah suatu hal yang sulit. Menulis adalah “orgasme pikiran” , sekali kita merasakan nikmatnya “orgasme ide” pasti akan ketagihan untuk segera menuangkannya ke dalam tulisan.
  • Jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Bagaimana pun juga jika berusaha terus tanpa berdoa, berarti kita termsuk orang yang sombong, namun sebaliknya hanya berdoa saja tanpa mau berusaha berarti kita termasuk orang yang malas.

Tips untuk mendapatkan pekerjaan juga dapat dilihat http://www.jobloker.co.id/id/job-alerts/51-10-tips-mendapatkan-pekerjaan-dengan-cepat.

Kesimpulan

Konsep tentang kerja sebagai kepuasan diri melalui pelayanan terhadap Tuhan dan sesama manusia, mempunyai beberapa konsekuensi yang sangat sehat. Kita akan menilai pekerjaan kita dengan lebih tinggi. Kita juga akan menjaga agar orang-orang yang kita pekerjakan dapat berbuat sedemikian pula. Kita akan memiliki keprihatinan yang mendalam terhadap pengangguran, dan bersama dengan anggota masyarakat yang lain mengupayakan agar para pengangguran tetap mempunyai kesibukan meskipun tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.

Written by Rolan Sihombing

July 4, 2012 at 3:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: