Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Memimpin Dengan Gagah Berani

leave a comment »

Yosua 1:1-9

Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Di tengah keadaan dunia yang gonjang-ganjing dan penuh perubahan yang tidak pasti, dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu memimpin dengan penuh keberanian. Dalam bukunya “The Breakthrough Company”, Keith R. McFarland menuliskan salah satu alasan yang menyebabkan perusahaan-perusahaan biasa dengan modal biasa yang memulai usahanya sebagai sebuah usaha kecil, dan kemudian pada satu fase tertentu usaha kecil ini dapat melakukan lompatan raksasa dan melakukan terobosan sehingga akhirnya menjadi sebuah perusahaan istimewa yang mampu bertahan dan membuat perbedaan, adalah keberanian pemimpin untuk mengambil resiko. Seorang pemimpin yang ingin melakukan terobosan dalam pekerjaan bahkan dalam pelayanannya, harus memiliki keberanian yang cukup untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi resiko.

Yosua, suksesor Musa, pun menghadapi situasi ini, situasi dimana ia harus keluar dari zona nyaman, dan melakukan pertaruhan besar untuk memimpin bangsa Israel masuk ke dalam tanah Kanaan. Alkitab dengan jelas mengulang frase “kuatkan dan teguhkan hatimu” sebanyak tiga kali. Ini mengindikasikan bahwa untuk menuntaskan panggilannya memimpin bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, Yosua harus terlebih dahulu mengalami terobosan mentalitas, yaitu memiliki keberanian untuk menjadi pemimpin menggantikan Musa yang sudah mangkat.

Mengapa Yosua harus memiliki keberanian menggantikan Musa? Kita tahu jika Yosua meniti karir kepemimpinannya sebagai abdi atau pembantu Musa. Selama ia mendampingi Musa, Yosua muda melihat kehebatan Musa sebagai seorang pemimpin. Musa mampu menaklukkan Mesir dan Firaun dengan 10 tulah yang luar biasa. Musa mampu membelah Laut Teberau, sehingga bangsa Israel dapat berjalan di dasar laut, dan tentara-tentara Firaun yang mengejar pun terkubur hidup-hidup di dalam lautan. Musa mampu mendatangkan mujizat yang luar biasa yaitu roti yang turun dari Surga, sehingga orang-orang Israel tidak kelaparan. Bahkan selama masa pengembaraan di padang gurun, Alkitab mencatat bahwa kasut atau alas kaki orang Israel tidaklah rusak. Dari Musalah, orang-orang Israel mendapatkan hukum Taurat. Dan masih banyak kisah-kisah kesuksesan Musa sebagai seorang pemimpin. Dan kisah-kisah tersebut tentu menjadi bayang-bayang yang meraksasa ketimbang keberadaan dan kualitas Yosua sebagai seorang pemimpin.

Secara sosial, Yosua pun menghadapi tantangan yang tak kalah besarnya. Perubahan pola hidup dari nomaden menjadi suatu bangsa yang menetap tentu bukanlah perkara mudah. Hukum mulai harus dirumuskan sehingga keteraturan dalam bermasyarakat di daerah yang baru dapat terjadi. Belum lagi tantangan dari luar seperti Suku Enak yang kala itu merupakan suku yang berbadan raksasa, yang harus ditaklukkan oleh Yosua dan pasukannya. Ini semua menambah daftar panjang beban berat yang harus dipikul Yosua sebagai seorang pemimpin baru.

Namun Tuhan mengingatkan Yosua untuk tetap kuat dan teguh sehingga ia bisa memimpin bangsa Israel memiliki negeri Kanaan dan juga meninggalkan tanda kepemimpinannya sendiri. Dalam ayat di atas kita dapat mencermati hal-hal yang harus dimiliki seorang pemimpin sehingga ia dapat bertransformasi menjadi seorang pemimpin yang dapat memimpin dengan penuh keberanian.

Pertama, VISI. Visi Yosua adalah supaya tiap orang Israel memiliki tanah yang telah dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada Abraham. Di tengah membanjirnya definisi tentang visi, saya tertarik dengan definisi yang dilontarkan Robert F. Kennedy. Ia menyatakan visi adalah amarah terhadap segala bentuk ketidakbenaran sosial yang disertai upaya yang sungguh untuk mewujudkan realita yang ideal. “Each time a man stands up for an ideal or acts to improve the lot of others, or strikes out against injustice, he sends forth a tiny ripple of hope, and crossing each other from a million different centers of energy and daring, those ripples build a current that can sweep down the mightiest walls of oppression and resistance.”

Segala hal yang menghancurkan hati seseorang, mungkin karena ketidakadilan, mungkin karena kemiskinan, lalu ia dengan bersungguh-sungguh mengupayakan sebuah perubahan untuk kepentingan orang-orang yang dilayaninya, adalah visi yang layak mendorong energi, cinta, dan mimpi seorang pemimpin sejati. Setiap pemimpin sejati harus memiliki kemampuan untuk melihat alternatif dan kemungkinan untuk sebuah perubahan yang membawa pada kesejahteraan, dan bukannya terpaku pada masalah dan tidak bisa berpangku tangan tanpa beberapa solusi untuk permasalahan tersebut.

Tuhan memerintahkan Yosua untuk melihat tanah perjanjian yang Ia sudah janjikan kepada Abraham leluhur bangsa Israel. Memang ada tantangan, tetapi Tuhan menghendaki Yosua berfokus pada tanah perjanjian dan bukannya pada rintangan yang menghalangi. Hanya seorang pemimpin yang memiliki tujuan yang kuat, akan mampu bertahan membawa orang-orang yang dipimpinnya kepada “tanah perjanjian” mereka.

Kedua, PENYERTAAN ILAHI. Mazmur 75:7-8 menyatakan bahwa pengangkatan seorang pemimpin datang dari Tuhan sendiri. Artinya seorang pemimpin tidak pernah muncul tanpa Tuhan sendiri merencanakannya terlebih dahulu. Dan tiap pemimpin tersebut direncanakan dan ditempatkan Allah dalam lintasan sejarah yang unik. Kepemimpinan karismatis Soekarno dibutuhkan bangsa ini ketika bangsa ini baru belajar menjadi sebuah bangsa. Tetapi kemudian dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengatur dan memantapkan bangsa ini, maka dibangkitkan Soeharto. Bahkan ketika bangsa ini terpuruk citranya di hadapan dunia, maka dibangkitkanlah seorang pemimpin yang humoris dan suka jalan-jalan seperti Gus Dur. Dan di tengah hingar bingar politik, dibutuhkan seorang pemimpin yang pendiam seperti Megawati.

Musa memiliki waktu kepemimpinannya sendiri, Yosua pun juga. Demikian pula generasi-generasi pemimpin jauh sesudah masa kejayaan Yosua, semua itu diangkat oleh Tuhan sendiri untuk memimpin dan membuat tanda sejarah pada lintasannya sendiri. Dengan demikian jika Tuhan yang mengangkat kita sebagai pemimpin dalam skala kita masing-masing, tentulah Tuhan juga akan menyertai dan memampukan kita memikul tanggung jawab dan beban yang diserahkan kepada kita, dan meninggalkan jejak kepemimpinan pada masa kita. Jangan gentar pada masalah dan kesulitan. Selama Yesus masih satu perahu dengan kita, tak ada yang perlu kita takutkan.

Ketiga, INTEGRITAS. Yosua diperintahkan Tuhan untuk bertindak hati-hati sesuai dengan hukum Tuhan. Kepemimpinan dan integritas merupakan dua sisi mata uang. Seorang pemimpin itu harus mampu bicara dan menunjukkan. Ketika ia bicara soal hal-hal yang benar tapi ia tidak menunjukkan hal-hal yang benar, maka ia hanya pemimpin secara posisi. Tapi ketika ia berbicara dan ia memberi contoh, maka ia menjadi seorang pemimpin karena penghargaan. Dan orang butuh dipimpin oleh seseorang yang mereka hargai, bukan karena mereka takuti.

Keempat, DISIPLIN PRIBADI. Allah memerintahkan Yosua untuk tetap merenungkan dan memperkatakan Taurat sehingga pada akhirnya ia bisa memimpin dengan integritas. Seorang pemimpin adalah orang yang harus terus belajar. Karena semakin tinggi level pembelajaran kita, maka semakin banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada orang-orang yang kita pimpin. Semakin banyak bidang pula yang bisa kita berikan sentuhan.

Selamat memimpin dengan berani, para pemimpin hebat….

“Only those who dare to fail greatly can ever achieve greatly”

Written by Rolan Sihombing

July 3, 2012 at 2:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: