Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Bertambah Tua Adalah Takdir, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan

leave a comment »

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11).

Kedewasaan sejati terletak di sikap atau attitude, dan bukan pada umur. Seringkali kita berpikir, jika usia yang menua merupakan tanda yang absah dari sebuah kedewasaan. Tetapi ternyata tidak. Usia bukanlah faktor penentu dari sebuah kedewasaan. Tak heran kita sering mendengar pernyataan,”Geus kolot teu nyaho kolot-kolotna.”

Ada dua hal yang dinyatakan dari pernyataan Paulus dalam ayat di atas. Pertama, kedewasaan adalah sebuah bentuk sifat. Dewasa berarti memiliki sifat dewasa dan bukan sifat anak-anak. Dalam pengalaman saya sebagai pembela anak, ciri khas seorang anak adalah masih berorientasi pada kesenangannya sendiri tanpa mengindahkan perasaan ataupun keberatan orang lain. Jika mereka minta permen dan tidak mendapatkan, maka mereka akan menangis tanpa menghiraukan nasehat kita mengenai buruknya pengaruh permen pada gigi.

Ciri lainnya dari seorang anak adalah kurangnya rasa tanggung jawab terhadap suatu tugas yang sebenarnya menjadi kewajiban mereka. Karena orientasi mereka yang masih berpusat pada “kesenangan aku,” maka acapkali mereka lalai mengerjakan sesuatu yang sudah disepakati untuk mereka kerjakan. Sehingga akhirnya mereka pun membutuhkan figur yang mereka takuti untuk mengawasi mereka.

Ada ungkapan yang menyatakan demikian: “Our attitude is our altitude.” Sifat kita menentukan seberapa tinggi level kedewasaan kita dalam menyikapi hidup. Ketika kita memprioritaskan kepentingan, kesenangan orang lain di atas kepentingan atau kenyamanan kita sendiri, maka kita sudah dewasa. Dan ketika kita mengerjakan semua tugas dan tanggung jawab tanpa adanya pengawasan dari orang lain yang punya kedudukan lebih tinggi dari kita, maka kita sudah bisa mengatakan kalau kita adalah orang dewasa.

Pernyataan Paulus yang berikutnya menyuratkan perlunya sebuah komitmen untuk meninggalkan sifat kekanak-kanakan tersebut. Komitmen meninggalkan sifat kekanak-kanakan tentu harus dilandaskan kesadaran bahwa kita memang sudah dewasa dan tidak pantas bersifat kekanak-kanakan dalam hidup. Ketika kita dihadapkan pada masalah, sikap seorang anak adalah menangis meminta pertolongan orang lain. Tetapi sebagai orang dewasa ketika kita dihadapkan pada masalah, maka sikap kita adalah menggeluti masalah itu sampai titik permasalahannya ditemukan dan solusinya bisa diajukan.

Yang mengherankan adalah seringnya seorang yang dikatakan sudah dewasa tapi ketika menghadapi masalah justru lari menghindari masalah. Tidak hanya cukup sampai di situ, iapun akan menyalahkan orang lain atas masalah yang ia hadapi. Mungkin saja ia menyalahkan orangtuanya, kakak atau adiknya, pasangannya. Atau yang sering dilakukan Fauzi Bowo jika disinggung soal banjir di Jakarta; menyalahkan belum rampungnya masalah pembebasan tanah sekitar proyek Kanal Banjir Timur.

Komitmen meninggalkan kenyamanan kanak-kanak memang tak mudah, tetapi jika kita meyakini hidup adalah perubahan dan perubahan adalah ciri kehidupan; maka miliki komitmen untuk meninggalkan kenyamanan kanak-kanak dan menjemput sifat kedewasaan untuk sebuah kehidupan yang semakin baik di esok hari.

Selamat berjuang menjadi dewasa!!

Written by Rolan Sihombing

July 3, 2012 at 2:36 pm

Posted in Humaniora

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: