Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Yang Terlewatkan-Part One

with one comment

Saya harus mengakui tulisan ini banyak dipengaruhi oleh sebuah lagu yang bertajuk Yang Terlewatkan yang dipopulerkan oleh band kondang asal Yogyakarta, Sheila On 7. Sewaktu pertama kali saya mendengar lagu ini, telinga dan asa saya serasa “klik” dengan lagu ini. Selain melodi lagunya yang cukup indah dengan aransemen yang cukup minimalis, lagu ini berhasil mengganggu pikiran saya. Sebuah pikiran tentang adegan-adegan kehidupan yang acapkali sering terlewatkan, dan baru pada saat sekarang adegan-adegan terlewatkan tersebut dirasa penting dan semestinya bisa membentuk alternatif cerita kehidupan yang lebih baik di kekinian.

Ada beberapa adegan kehidupan yang terlewatkan dalam hidup saya, yang semestinya jika tidak terlewatkan mungkin saja cerita kehidupan saya memiliki alur yang lebih menarik dan menyenangkan. Saya akan menuliskan buat para pembaca satu persatu, dan tulisan ini akan terdiri dari beberapa episode. Semoga para pembaca berkenan membacanya.

Jakarta, 1987-1991

Yang pertama adalah secuil adegan di saat saya masih berstatus siswa kelas satu di sebuah SMP Katolik di Jakarta Timur. Selain berstatuskan murid pada sebuah sekolah formal dengan prestasi akademis yang cukup mumpuni, saya pun sudah aktif sebagai murid sebuah sekolah sepakbola di Jakarta Timur. Kecintaan saya pada olahraga ini sudah terpupuk bahkan ketika saya masih berumur 6 tahun. Saya masih ingat ketika itu saya sering bermain bola di pekarangan rumah saya di Pontianak. Dan hebatnya (menurut saya) saya adalah yang paling kecil di antara teman-teman sepermainan saya. Hobi ini semakin mendarah daging ketika pada tahun 1987 Bapak dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta. Kebetulan di depan rumah terhampar lapangan sepakbola yang cukup baik (untuk ukuran sebuah komplek perumahan pegawai PLN). Saya akui saya adalah orang yang sangat canggung jika harus berhadapan dengan orang baru, tetapi sepakbola menolong saya untuk beradaptasi dengan budaya kota besar seperti Jakarta. Karena sepakbola pula saya dapat memiliki teman-teman baru di komplek, dan juga di sekolah.

Suatu sore di pertengahan tahun 1988, saya terbangunkan dari tidur siang oleh suara sekelompok anak kecil yang sepertinya sedang melakukan senam bersama. Karena penasaran saya pun beranjak dari tempat tidur dan segera melongok ke luar untuk melihat ada aktifitas apa sesungguhnya. Saya cukup kaget karena saya melihat sekelompok anak sebaya saya di lapangan sepakbola depan rumah saya, berseragam sepakbola hijau, dan bersepatukan sepatu khusus. Saya baru kali itu melihat sepatu sepakbola, jadi saya cukup terkesima dengan sepatu-sepatu yang dikenakan oleh anak-anak tersebut. Bau pisang goreng buatan Mama tidak bisa menggubris saya untuk mengikuti dengan seksama kegiatan anak-anak tersebut. Teman saya yang juga menyaksikan kegiatan tersebut membisikkan jika anak-anak itu adalah siswa sekolah sepakbola Remaja Jakarta (saya kemudian mengetahui jika Remaja Jakarta pernah menjuarai turnamen antar sekolah sepakbola).

Kontan pemandangan sore itu membuat saya malam itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Di atas ranjang saya membayangkan diri saya mengenakan seragam kebesaran Remaja Jakarta dengan sepatu sepakbola yang hitam legam. Pikiran liar saya pun melanglang hingga ke Napoli tempat dimana idola saya Diego Maradona bermain. Saya membayangkan sambil tersenyum-senyum sendiri, momen-momen ketika saya berlatih dan bermain bersama Sang Maestro.

“Roland mengumpan bola ke Careca. Kemudian Careca menyisiri sisi kiri lapangan. Di tengah Roland berdiri tanpa terjaga. Kemudian Careca memberikan bola mendatar kepadanya. Roland menggiring bola sekarang…ia melewati satu, dua, tiga pemain. Wow luar biasa. Sekarang ia memasuki kotak penalti, di situ ada Maradona…Roland memberikan sontekan kepada Maradona. Bola dikuasai Maradona. Ia berputar, dan kembali bola diberikan pada Roland. Roland dengan bola, dan gooooooooollllllllllll. Sebuah kerjasama yang cantik antara Roland dan Maradona. Roland pemain dari Indonesia yang direkrut oleh Napoli, sekarang menjadi pemain kesayangan Napoli, bermain bersama legenda hidup sepakbola Diego Armando Maradona.”

Mimpi yang cukup fantastis untuk seorang anak kecil. Tapi malam itu tidur saya dikawal oleh mimpi. Mimpi untuk menjadi pebola terkenal.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk merayu Bapak dan Mama untuk mendaftarkan saya ke sekolah sepakbola Remaja Jakarta. Keluarga saya pada masa itu bukanlah keluarga yang berada. Bapak pada 3 tahun pertamanya di PLN Pusat masih terbilang staf menengah di dalam departemen yang katanya adalah “tempat pembuangan.” Jadi kondisi ekonomi Bapak dan Mama semestinya tidak cukup untuk membayar iuran bulanan tambahan untuk sebuah sekolah sepakbola. Belum lagi harus membeli perlengkapan latihan seperti sepatu sepakbola, pelindung kaki, dan seragam. Tapi saya bersyukur memiliki orangtua yang rela mengorbankan kesenangan pribadinya hanya untuk mewujudkan impian anaknya.

Akhirnya, saya pun bergabung dengan Remaja Jakarta. Bulan-bulan pertama pelatih meminta saya untuk melakoni semua posisi (kecuali penjaga gawang). Jadi saya pernah dipasangkan sebagai bek kanan, lalu bergeser ke tengah menjadi bek tengah. Karena pelatih saya mengetahui kalau saya kidal, tak berapa lama saya digeser lagi ke kiri untuk menempati posisi bek kiri. Namun sayangnya saya adalah bek yang buruk. Saya lebih suka menyerang sampai lupa harus kembali ke pos saya yang sebenarnya. Akibatnya dalam latihan, saya selalu dipersalahkan karena selalu lupa untuk kembali ke garis pertahanan.

Bang Sarman Panggabeanlah yang kemudian merubah posisi saya menjadi sayap kiri (Attacking Midfielder Left). Ternyata posisi inilah yang merupakan posisi ideal saya. Kebetulan saya pun ditunjang dengan kecepatan lari yang cukup, sehingga tugas menyisir sisi kanan lawan bisa saya laksanakan dengan baik. Saya masih bisa mengingat ada beberapa gol yang diciptakan oleh striker kami yang berasal dari akselerasi dan umpan crossing saya.

Kegandrungan saya pada sepakbola dan olahraga tidak hanya berimbas pada proses adaptasi saya di komplek, tetapi juga di sekolah. Lewat olahraga saya pun memiliki banyak teman di sekolah. Semua olahraga di sekolah pasti saya lakoni. Dari basket, kasti, sepakbola tentunya, bulutangkis, hingga volley. Dan karena kemampuan saya dalam bidang olahraga, seorang teman sekelas (wanita tentunya) mulai memberikan perhatian lebih. Saya masih ingat ketika saya duduk di kelas 6 SD, seorang teman memberikan sebuah puisi yang ditulis tangan, dan tak lupa ia lampirkan sekuntum bunga berwarna kuning yang sudah dikeringkan. Lucu kalau mengingatnya.

Kembali ke sepakbola. Tanpa terasa sudah 3 tahun saya sudah bergabung dengan Remaja Jakarta. Sebuah posisi permanen yaitu sayap kiri sudah saya dapatkan. Teman dan sahabat pun sudah saya miliki. Bahkan beberapa pemuja rahasia juga sudah saya miliki (termasuk si gadis yang memberikan bunga kuning). Dan yang lebih membanggakan (menurut saya kala itu), saya diberi keistimewaan untuk mengenakan seragam kebesaran klub dengan nomor punggung 10. Nomor punggung yang sama dengan yang dikenakan oleh Diego Maradona. Dan sudah menjadi rahasia umum, kalau pemain dengan nomor punggung 10 itu merupakan pemain dengan kemampuan yang harus diwaspadai oleh lawan. Karena nomor punggung itu pula saya sering mendapatkan tackle, dari yang ringan sampai yang terkeras. Karena nomor punggung itu saya pun sering mendapatkan kawalan ketat dari lawan.

Sebuah pengalaman yang menarik pada tahun ketiga saya di Remaja Jakarta adalah ketika klub kami melakoni sebuah pertandingan persahabatan dengan Pelita Jaya Junior. Ajang pertandingan persahabatan ini dimaksudkan sebagai persiapan untuk tur ke Solo. Di Solo kami nantinya akan berhadapan dengan Arseto Solo Junior. Sepulang dari Solo, kami akan mulai melakoni kompetisi antar klub se-Jakarta untuk kategori gawang C (kelompok umur 12-14). Pelatih saya sudah mewanti-wanti agar saya betul-betul menjaga kebugaran. Ia juga menasehatkan saya untuk tidak lupa mengenakan pelindung kaki (saya termasuk pemain yang malas menggunakan pelindung kaki) supaya saya terhindar dari cidera fatal.

Bertanding dengan Pelita Jaya Junior di Stadion Lebak Bulus merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Jadi sehari sebelum pertandingan saya betul mempersiapkan kondisi fisik sebaik mungkin. Sepulang sekolah saya langsung bergegas berangkat ke Stadion Lebak Bulus bersama dengan seorang teman. Tetapi karena saya “buta Jakarta” saya pun tersasar sedangkan waktu yang ditetapkan pelatih untuk berkumpul di Stadion Lebak Bulus sudah berlalu 15 menit. Akhirnya dengan usaha keras bertanya ke sana-sini, saya pun tiba di Stadion Lebak Bulus. Saya tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat kemegahan stadion itu. Decakan kagum ini pun terhenti pula karena saya diteriaki oleh asisten pelatih yang dengan setengah marah memerintahkan saya untuk segera mengenakan seragam dan sepatu. Saya baru tahu kemarahan itu disebabkan karena babak pertama baru saja berakhir, dan klub kami tertinggal 0-2.

Saya pun dimasukkan dalam line-up. Dan ketika saya menjejakkan kaki di rumput Lebak Bulus, saya merasakan kenikmatan tersendiri. Tekstur rumputnya sangat lembut, dan struktur tanahnya pun sangat empuk. Jauh berbeda dengan kondisi lapangan di depan rumah. Saya juga melihat seragam anak Pelita Jaya Junior yang begitu elegan, dan hampir semuanya mengenakan sepatu sepakbola bermerk Nike yang pada tahun 1991 saja sudah berharga ratusan ribu rupiah. Sempat minder juga, terlebih ketika saya melihat Rully Nere yang ada pinggir lapangan meneriakkan instrusi kepada anak-anak didiknya, Pelita Jaya Junior. Tidak terlalu jelas apa yang diteriakkannya, tetapi lamat-lamat saya mendengar sesuatu seperti, “Yang nomor 10 itu dijaga ya…” Bangga juga seorang mantan pemain nasional sekaliber Rully Nere mencemaskan si nomor 10, anak Klender pindahan dari Pontianak, Roland Sihombing.

Pertandingan pun dimulai dengan bola ada di pihak kami. Saya merasakan ada semangat baru di antara teman-teman. Bahkan semangat itu bisa terlihat ketika mereka pertama kali melihat saya memasuki sisi lapangan Lebak Bulus dan menerima instruksi dari pelatih. Mungkin mereka berpikir saya bisa menjadi penyelamat dari kekalahan. Terlalu berlebihan menurut saya.

Tetapi yang menjadi penyemangat yang sesungguhnya adalah ketika pada menit 10 (kami tidak bermain dengan sistem 2×45 menit, melainkan 2×30 menit) striker kami, Roy, berhasil menceploskan gol ke gawang Pelita Jaya Junior. Gol itu berawal kemelut akibat dari sepak pojok di sisi kanan lawan. Bola yang semestinya ditanduk ke sisi luar oleh bek Pelita Jaya Junior, malah jatuh ke bagian tengah kotak penalti. Dan kebetulan Roy berada persis dekat dengan bola liar itu. Dan dengan tendangan yang akurat, ia berhasil menyarangkan bola ke sudut kanan atas gawang Pelita Jaya Junior. 1-2 skornya, dan masih butuh 2 lagi untuk memenangkan pertandingan.

Lima menit kemudian berawal dari sebuah serangan balik, saya mendapatkan sebuah umpan dari gelandang bertahan. Saya melihat ada celah untuk saya menggiring bola menyisir sisi kanan pertahanan lawan. Saya pun menggiring bola dengan kecepatan tinggi. Saya berhasil mengecoh dua pemain Pelita Jaya Junior dan terus menggiring bola memasuki sisi tengah pertahanan Pelita Jaya Junior. Karena tidak mungkin bagi saya untuk melakukan tembakan langsung, saya berusaha mendorong bola kembali ke kiri untuk membuka celah bagi striker kedua (saya lupa namanya) masuk ke dalam kotak penalti. Saya pun mendorong bola kembali ke kiri, dan benar bek tengah Pelita Jaya Junior terkecoh sehingga ada ruang kosong bagi striker kedua kami. Saya pun melambungkan bola kepada teman saya tersebut. Ia mengontrol bola dengan dadanya, dan dengan kaki kirinya ia berhasil menceploskan bola ke tiang dekat Pelita Jaya Junior. Dan gooollll. Menurut pelatih saya kemudian, gol itu merupakan gol yang cukup indah. 2-2 sekarang. Waktu tinggal 15 menit, dan butuh 1 gol saja untuk memenangkan pertandingan. Bangga rasanya karena pelatih memberikan salut atas kontribusi saya merusak pertahanan lawan.

Pertandingan masih berjalan dengan alot. Memasuki menit ke 22, Basuni, bek kiri kami, membawa bola dengan pelan. Entah apa yang dipikirkannya tapi setahu saya ia pasti sedang menyusun strategi penyerangan. Ia lalu memberikan bola kepada saya. Saya melihat ia berlari ke tengah mencari ruang kosong. Seingat saya, kami berdua pernah melatih skema ini. Sehingga reaksi saya yang berikutnya adalah mengumpan ke gelandang tengah kami yang rupanya juga sudah siap untuk menerima bola. Sementara saya mengumpan, saya berlari menghampiri gelandang tengah. Bola hanya ditahannya sebentar, dan dengan tumit kakinya ia meneruskan bola kepada saya lagi yang sudah berpindah ke tengah. Skema berjalan dengan baik, karena pada saat yang sama, Roy berada di sisi kanan lawan. Akibatnya kembali daerah tengah Pelita Jaya Junior kosong karena ditinggalkan beknya yang mengawal Roy. Sementara Basuni masih berlari menuju daerah tengah. Lalu saya memberikan bola kepadanya, dan semestinya ia bisa melakukan shoot langsung. Tetapi rupanya bek tengah Pelita Jaya Junior menyadari bahwa Roy yang dijaganya tidak akan diberikan umpan, maka ia berusaha mencegah Basuni yang memang seharusnya akan melakukan tembakan. Tetapi dengan keluwesan Basuni, ia berhasil memantulkan bola arah saya yang juga sedang berlari menyusuri bagian tengah Pelita Jaya Junior. Saya mendengar teriakannya ketika ia memantulkan bola kembali ke saya, “Shoot Lan!!!” Kebetulan bola persis berada di dekat kaki kiri saya, saya pun menembak bola itu menggunakan bagian luar kaki kiri saya. Bola menghujam deras dan masuk ke sisi kanan atas penjaga gawang Pelita Jaya Junior. “Gooooolllll,” teriak saya sekuatnya. Dan tak lama kemudian Basuni dan Roy memeluk saya merayakan gol pertama saya di Lebak Bulus. Entah apa yang terlintas dalam benak saya ketika saya mengucapkan sebuah kalimat aneh kepada Basuni, “Ini gol pertama dan terakhir gue di Lebak Bulus, Bas.” Kalimat saya itu rupanya pun tak digubris Basuni. Dan saya pun tidak mengharapkan respon darinya.

Akhirnya pertandingan berakhir dengan skor 4-2 untuk kemenangan Remaja Jakarta. Anak-anak Klender bisa mengalahkan anak-anak elit Pelita Jaya Junior. Cukup membanggakan bagi kami yang notabene hanyalah sebuah klub amatir dari Klender. Yang membanggakan adalah saya sempat bersalaman dengan Rully Nere dan dia mengatakan, “Bagus no. 10. Kamu memang berbahaya.”

Pulang ke rumah dengan kondisi yang letih, tetapi saya masih bisa bercerita dengan antusias kepada Bapak kalau saya mencetak gol dan memberikan sebuah assist untuk kemenangan Remaja Jakarta. Bahkan Bapak pun terlihat senang ketika saya menceritakan perjumpaan saya dengan Rully Nere. Bapak pun berkata, “Sudah jangan lupa daratan. Masih ada pertandingan lain. Kalaupun ini pertandingan terakhir, kamu ingat bahwa jangan pernah berlama-lama merayakan kesuksesan.” Saya baru mengerti arti kalimat ketika saya semakin beranjak dewasa.

Juni 1991, sekolah libur dan saya sedang melakukan persiapan terakhir bersama Remaja Jakarta untuk melakukan serangkaian pertandingan persahabatan di Solo dan sekitarnya. Pada suatu latihan terakhir sebelum berangkat ke Solo, kami melakukan game play sebagaimana biasanya. Pertandingan berjalan dengan fun karena kami berusaha menjaga kebugaran dan menghindari cidera. Menjelang pertandingan berakhir, saya mendapatkan kesempatan untuk menggiring bola seperti kebiasaan saya. Tapi entah doping apa yang saya minum, saya bisa mengecoh dan melewati 5 pemain berturut-turut. Posisi saya sudah di atas angin untuk mencetak gol. Tetapi sebelum saya menendang bola itu, saya mendengar suara seperti tulang patah. Ternyata suara itu berasal dari saya sendiri!!! Rupanya teman saya “panas” karena saya berhasil mengecohnya. Seusai saya melewatinya, ia berlari sekuat tenaga mengejar saya. Saya tidak mencurigai dia karena sebagai seorang bek sudah sepatutnya ia berjibaku mempertahankan wilayah pertahanannya. Tapi karena ia terlalu bersemangat, ia salah dalam melakukan tackling. Tackling yang seharusnya diarahkan untuk merebut bola, malah mengenai kaki saya dan akibatnya saya jatuh terduduk. Ketika saya jatuh terduduk itulah saya mendengarkan suara seperti tulang patah. Tetapi anehnya, saya masih bisa bangun dan kemudian mencetak gol malah. Bahkan malam usai latihan, saya masih sempat bermain bulutangkis dengan teman-teman di kompleks.

Tetapi rupanya jalan Tuhan bukan jalan saya. Maksud hati ingin menjadi pemain bola terkenal, malah beberapa hari kemudian persis pada saat keberangkatan teman-teman ke Solo, saya terkapar di tempat tidur karena terjadi pembengkakan di bagian pinggul saya. Bahkan saking sakitnya yang saya rasakan di sekitar tulang panggul, saya tidak bisa tidur terlentang. Dan untuk ke WC, saya harus digendong oleh Bapak. Bapak dan Mama kemudian memutuskan membawa saya ke RS. Carolus untuk ditangani oleh seorang ahli tulang no 1 pada masa itu. Beliau merupakan dokter pribadi istri salah seorang mantan presiden Indonesia. Ia juga yang merawat Mia Audina ketika yang bersangkutan harus berkutat dengan cidera lutut berkepanjangannya. Tetapi Profesor ini justru terlebih dahulu menjatuhkan vonis jika saya mengidap kanker tulang. Sehingga panggul saya yang bermasalah itu tidak ditangani. Beliau malah mengurusi pembengkakan yang saya alami. Pembengkakan itu berwarna biru kehitam-hitaman, dan bermulai dari bagian pangkal paha sampai hampir menyentuh lutut saya. Mungkin karena pembengkakan itu, vonis kanker dijatuhkan. Akhirnya alih-alih saya sembuh dari tulang panggul saya yang bergeser akibat jatuh terduduk itu, saya akhirnya menjadi cacat seperti sekarang.

Kaki kanan saya sekarang memiliki selisih sekitar 8 cm dari kaki kiri saya. Akibatnya saya berjalan dengan pincang. Akibat kejadian ini, saya harus tinggal kelas setahun. Saya sempat masuk beberapa hari ketika di tahun 1991 itu (kelas 2 SMP), tapi karena saya didorong oleh teman sekelas akibatnya saya kembali merasakan kesakitan bagian panggul. Selain karena trauma, saya pun kembali harus menghabiskan 8 bulan dirawat secara alternatif di klinik Guru Singa yang terletak di bilangan Pondok Kelapa Jakarta Timur. Tetapi setelah 8 bulan tidur di ranjang triplek, toh kaki saya tetap panjang sebelah dan saya tetap berjalan pincang. Saya pernah mendapat informasi bahwa saya bisa kembali berjalan normal jika tulang mangkok (saya tidak tahu istilah medisnya) saya diganti dengan berbahan sintetis. Konon pada tahun 1990-an harga 1 unitnya hanya sekitar 400 juta rupiah.

Kemudian di tahun-tahun berikutnya saya tumbuh menjadi anak remaja yang minder. Yang lebih menyesakkan anak-anak Remaja Jakarta yang notabene adalah teman-teman sepermainan selama 3 tahun, masih berlatih di depan rumah. Seringkali saya menangis diam-diam mengingat masa-masa saya masih berlatih dengan mereka, berlari bersama mereka, melakukan senam Brazil bersama mereka, melakukan serangkaian pertandingan bersama mereka, bahkan memberikan umpan-umpan matang untuk mereka. Bang Ponirin Meka, mantan kiper timnas era 80-an, pun masih sering menyempatkan menyambangi saya di rumah. Dan beberapa kali saya melihat ia menyeka air matanya, karena saya anak didiknya sekarang berubah menjadi cacat. Saya yang pernah dijuluki pemain berbahaya oleh Rully Nere, berubah menjadi Roland yang tidak pernah bisa berlari lagi.

Bahkan di sekolah pun saya mengalami aniaya secara mental. Tidak jarang saya sering dihina dengan pelbagai istilah yang berpotensi menyebabkan saya melakukan bunuh diri. Istilah seperti “si pincang dari gua hantu”, “monyet pincang”, “bacang alias batak pincang” dan lain-lain adalah makanan sehari-hari saya. Hampir setiap malam saya menangis di tempat tidur, menyalahkan Tuhan, menyalahkan teman yang mengganjal saya, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan hari ketika saya mendaftarkan diri menjadi siswa sekolah sepakbola Remaja Jakarta. Dan setiap pagi selama tahun 1992-1993 saya sering bangun dengan mata yang bengkak karena menangis semalaman.

Inilah salah satu babak kehidupan saya yang jika boleh diulang kembali sehingga saya tidak seperti yang sekarang ini, cacat dengan salah satu kaki yang panjang sebelah. Ada satu adegan yang semestinya saya lakukan, tapi saya sengaja melewatkannya. Jika saya tak melewati adegan itu, semestinya saya tetap akan menjadi pria normal. Adegan itu adalah ketika saya diminta mama ikut dengannya ke Blok M sepulang sekolah untuk menemaninya mengurus beberapa dokumen penting di kantor PLN. Mama waktu itu menjanjikan kalau saya ikut, saya akan diajak makan di restoran favorit saya. Tapi waktu itu saya berdalih ada latihan penting padahal latihan hari itu tidak sepenting yang saya utarakan kepada Mama. Sebenarnya alasan yang benar saya tidak mau ikut karena saya mau menggunakan telepon rumah untuk menelepon teman perempuan yang saya incar di kelas. Maklum zaman dulu telepon rumah itu diberikan pengamanan berlapis-lapis. Dan saya bukanlah anak yang punya banyak uang untuk pergi ke wartel dan menelepon sang gadis pujaan. Jadi ketimbang saya keluar uang dan mumpung rumah kosong karena mama pergi ke Blok M, lebih baik saya menelepon si dia dari rumah. Dan setelah menelepon baru saya latihan sepakbola.

Itulah adegan pertama yang terlewatkan dalam hidup saya. Secuil kesalahan kecil di masa lalu yang ternyata berdampak besar pada saat sekarang. Sepenggal lirik yang terdapat dalam lagu Yang Terlewatkan cukup mewakili untuk mengakhiri tulisan saya edisi ini, yaitu “Sesal tak kan ada arti, karna semua t’lah terjadi….”

Ingin tahu adegan-adegan terlewatkan yang lain yang saya alami. Nantikan kisah berikutnya…..

Written by Rolan Sihombing

February 20, 2009 at 12:27 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah kebetulan banget saya baru aja membuat sebuah cerpen yang terinspirasi sama lagu ‘Yang Terlewatkan’ juga..
    Kadang emang hidup seperti itu ya.. kita suka mikir “Kalo seandainya saya gak begitu, pasti hasilnya gak begini..”
    Tapi untuk semua hal yang terlewatkan..
    Sebagai manusia nampaknya kita hanya bisa bersyukur🙂

    lunniey

    March 5, 2009 at 6:06 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: