Rolan Sihombing Dan Beranda Mimpinya

Memimpikan Esok Yang Lebih Baik Daripada Hari Ini…

Agama Masa Depan

with one comment

Kegagalan Agama

Suatu hari nanti, peradaban umat manusia tidak lagi membutuhkan dimensi spiritual atau agama—meskipun para rohaniwan selalu mengatakan agama adalah hal yang paling esensial dalam kehidupan manusia. A.N. Wilson dalam bukunya yang berjudul “Against Religion: Why We Should Try To Live Without It ?” , dengan pesimis menyatakan demikian:

“Marx menggambarkan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama,” kata Wilson, ”jauh lebih berbahaya daripada candu. Agama tidak membuat orang tertidur. Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri sebagai pemilik sejati sebuah kebenaran.”

Terlepas dari pernyataannya yang bagi sebagian orang terasa menyakitkan, tetapi harus disadari ada potensi destruktif yang amat berbahaya dari sebuah agama. Jika ditinjau dari sudut sosiologis, agama harus diakui memang telah berhasil menimbulkan pelbagai konflik sosial, yang membawa berbagai macam perang antar agama yang sampai sekarang masih menjadi sebuah realita sosial di jaman modern ini. Krisis ini berakar pada claim of truth dan claim of salvation yang dilakukan oleh agama-agama mainstream.

Dawam Rahardjo, budayawan Islam sekaligus tokoh Islam Liberal Indonesia mengatakan kegagalan agama dalam mengatasi permasalahan sosial, dan juga dalam mengusahakan dialog antar agama yang berkelanjutan, menyebabkan manusia modern—seperti A.N. Wilson—menjadi skeptis terhadap klaim-klaim agama mainstream tersebut (Artikel-artikelnya dapat diakses di situs http://islamlib.com). Akibat kegagalan agama-agama tradisional itu, secara ekstrim manusia modern akan menjauhi agama. Mereka akan hidup hanya di pinggir lingkaran eksistensi, dimana manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensinya; tidak pada pusat spiritualitasnya sendiri. Memang dengan apa yang dilakukannya—memberi perhatian pada dunia dan eksistensi di luar dirinya—manusia memperoleh pengetahuan dunia material yang secara kuantitatif sangat mengagumkan, tetapi secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya ternyata dangkal. Akibat kedua—seperti yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Psikologi Agama”—ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, manusia bisa terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menghimpit kehidupan. Oleh kaum fundamentalis, kemunculan agama baru ini akan diberi label sesat.

Masih segar dalam ingatan yaitu tentang meruaknya sebuah agama baru, yaitu Komunitas Eden yang digagas oleh Lia Aminuddin, yang serta-merta dilabeli sesat oleh kaum fundamentalis. Pada masa awal, ajaran ini banyak menggalang pengikut yang terdiri dari pelbagai latar belakang agama, termasuk pelbagai latar belakang pendidikan. Karena dianggap sangat meresahkan, sejak 22 Desember 1997 MUI telah memberikan fatwa. Fatwa yang ditandatangani Ketua MUI saat itu KH Hasan Basri dan Sekretaris Umum MUI Nazri Adlani, menyatakan dengan jelas bahwa Komunitas Eden adalah sesat. Tentu yang menjadi suatu bahan permenungan yang menarik, mengapa para pengikut Komunitas Eden yang notabene memiliki latar belakang yang terpandang baik secara akademis maupun status sosial—sangat bertolak belakang dengan latar belakang pengikut Pondok Nabi di Dayeuh Kolot—bersedia meninggalkan agama mereka dan mengenakan agama baru tersebut walaupun di dalamnya terdapat pelbagai ajaran yang aneh. Ini mengindikasikan bahwa manusia modern mulai muak dengan keberadaan agama yang gagal menjadi representasi Tuhan dalam peradaban manusia.

Padahal agama sejatinya merupakan pertaruhan terakhir bagi kedamaian dalam peradaban manusia. Paling tidak hal tersebut dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, alasan teologis. Selama ini semua agama selalu membawa misi perdamaian. Walaupun pada praktiknya tidak jarang agama menjadi bendera yang diarak untuk kekerasan, tetapi dimensi substansial agama tetap bergeming. Di dalam kitab suci agama-agama tersurat jelas tentang perdamaian dan penghargaan terhadap pluralitas agama. Dan hal tersebut tak akan pernah terhapus oleh ulah segelintir orang yang mengatasnamakan agama dan berobsesi untuk menciptakan satu agama. Oleh sebab itu, agama tetap dapat dipertaruhkan untuk kepentingan perdamaian dunia saat ini. Kedua, alasan teleologis. Berbagai ideologi dunia telah menorehkan sejarah yang telah ikut mencarut-marutkan nilai kemanusiaan. Agama dengan konsep teleologisnya selalu bisa memberikan harapan yang tak pernah habis-habisnya untuk menghadirkan perdamaian dan kedamaian dunia. Namun belakangan, dengan merebaknya isu terorisme, agama menjadi ajaran yang menakutkan dan mengerikan. Hal ini karena adanya kecenderungan pengatasnamaan agama atas tindakan-tindakan terorisme yang sejatinya bertentangan dengan substansi agama itu sendiri. Kenyataan ini merupakan agenda agama-agama untuk meng-clear-kan ajarannya yang agung dari “pencemaran” segelintir orang yang mengatasnamakan agama.


Agama dalam Perspektif Filsafat Perennial

Setidaknya ada empat perspektif keagamaan yang sedang berkembang dewasa ini. Pertama adalah perspektif persatuan agama-agama (unity of religions). Persepktif ini sudah banyak diwacanakan di Barat, juga di kalangan Islam. Di kalangan Islam juga sudah dikenal konsep “Kesatuan Agama-Agama” (wahdatul adyân) yang berkembang terutama di kalangan sufi. Tujuan dari perspektif ini adalah agar agama-agama itu tidak terpecah-belah dan bertengkar satu sama lain, lalu bersatu menghadapi, misalnya ateisme, agnostisme, dan marjinalisasi eksistensi dan peran agama-agama di dunia modern. Namun dalam persatuan itu, identitas agama-agama tidak perlu dilebur seperti dalam sikretisme.

Kedua, terbentuknya “Agama Kewargaan” (civil religion). Kalangan Kristen banyak yang keberatan dengan Agama Kewargaan ini. Namun konsep ini sudah berkembang di Amerika Serikat. Hanya saja, bahan bakunya berasal dari ajaran agama Kristen dan Yahudi yang telah dibumikan (mengalami rasionalisasi dan objektivikasi dalam bumi AS). Dalam masyarakat yang lebih plural agama, bahan bakunya bisa digali dari semua agama-agama dunia. Konsep ini menghimpun semua elemen kebenaran inklusif dari semua agama untuk dijadikan pedoman perilaku bagi warga negara. Tapi “agama” ini tidak disucikan sebagai suatu akidah keagamaan. Namun kaum Kristen juga keberatan dengan konsep ini, karena dianggap melemahkan kedudukan agama-agama, khususnya Kristen. Dalam kenyataannya, agama Kristen formal justru berkembang sangat marak di AS, dengan indikator tingkat kunjungan ke gereja yang makin tinggi.

Ketiga adalah harapan terbentuknya Etika Global (global ethics). Konsep ini dikembangkan oleh Hans Kung dan Leonard Swindler, keduanya adalah rohaniawan Katolik. Konsep ini sebenarnya berlatarbelakang Eropa, karena di kawasan itu, agama—khususnya Kristen—telah mengalami marjinalisasi yang ditandai oleh tutupnya gereja-gereja karena sepi pengunjung. Masyarakat Eropa tidak lagi menjadi penganut agama formal, tapi mengikuti etika umum. Masyarakat AS dianggap paling religius tetapi kurang etis, sebaliknya masyarakat Eropa dianggap tidak religius tetapi sangat etis. Di Jepang, agama-agama Sinto, Buddha, atau Konfusianisme, juga menyurut sebagai agama formal, tetapi masyarakat Jepang memiliki etika yang sangat tinggi. Di tingkat global, agama formal tampaknya juga menyurut karena saling berkelahi, tetapi spiritualisme marak.

Keempat, berkembangnya “Agama Publik” (public religion). Gagasan ini sebenarnya adalah reaksi terhadap sekularisasi agama yang sebagai kredo dan sistem peribadatan memang telah mengalami sekularisasi dan privatisasi, namun doktrin sosial agama ingin dihidupkan kembali, sehingga agama punya peran dalam wacana publik, di tingkat kebangsaan maupun global. Tetapi berbeda dengan agama privat yang sifatnya suci, konsep agama publik bersifat profan. Di dunia Islam, konsep “ekonomi syari’ah” umpamanya, dapat disebut sebagai salah satu contoh Agama Publik yang bisa diikuti tidak saja oleh orang Islam, tetapi juga pemeluk agama lain.

Jadi, agama yang telah gagal memperbaiki tatanan masyarakat—walaupun telah melakukan pelbagai klaim dengan segala klaim kebenarannya—secara tahap demi tahap niscaya akan mengalami evolusi yang pada akhirnya akan membentuk sebuah “spesies” agama yang baru. Dan embrio agama baru ini hanya bisa dibidani oleh sebuah filsafat yang akhir-akhir ini ramai mengisi ruang wacana agama-keagamaan, yaitu filsafat perennial. Ia dalam hal ini memberikan janji untuk pengisian visi ini.

Filsafat perennial—secara etimologis berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi—dalam hal ini memberikan janji bagi dunia yang lebih baik di masa yang akan datang. Inti pandangan filsafat perennial adalah bahwa dalam setiap agama dan tradisi esoterik ada suatu pengetahuan dan pesan keagamaan yang sama, yang muncul melalui beragam nama dan dibungkus dalam berbagai bentuk dan simbol. Oleh karena itu, agenda pembicaraan yang diwacanakan dalam filsafat perennial adalah, pertama, tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, sumber dari segala wujud. Tuhan Yang Maha Benar adalah satu, sehingga semua agama yang muncul dari Yang Satu, pada prinsipnya sama karena datang dari Sumber yang sama. Kedua, filsafat perennial ingin membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif. Bagi penganut filsafat ini, agama itu tidak ubahnya seperti cahaya matahari yang terspektrum dalam pelbagai warna. Oleh karena itu, setiap agama memiliki kesamaan dengan yang lain, tetapi sekaligus juga memiliki kekhasan sehingga berbeda dari yang lain. Ketiga, filsafat perennial berusaha menelusuri akar-akar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui simbol-simbol, ritus, serta pengalaman keberagamaan.

Semangat yang dijaga oleh para penganut filsafat perennial kurang lebih berbunyi seperti ini, ”Anda tidak dapat mengatakan bahwa agama yang satu lebih baik dari yang lain. Semua agama pada dasarnya adalah relatif—yaitu terbatas, parsial, tidak lengkap—sebagai jalan dalam melihat segala sesuatu. Menganggap bahwa sebuah agama secara intrinsik lebih baik dari yang lain, merupakan sebuah sikap yang agak salah, ofensif, dan merupakan pandangan yang sempit.

Ciri-ciri Agama Masa Depan

Menurut Komaruddin Hidayat, keberadaan filsafat perennial ini akan merenovasi cara pandang dan aspek spritual manusia modern. Melaluinyalah format agama yang baru akan terbentuk. Namun ini tidak berarti agama masa depan yang muncul merupakan agama yang terpisah dari dan berbeda samasekali dari agama-agama tradisional. Tidak! Ia mungkin akan tetap mengenakan baju yang sama dengan agama tradisional. Bahkan bisa saja ia berbentuk plural akibat perkawinan bermacam-macam agama—seperti Lia Aminuddin yang berusaha mempersatukan agama Islam dan Kristen. Bagaimanapun wujud agama masa depan—entah mengalami perubahan atau tidak—yang pasti pada tataran esoteris dan puncak-puncak peradaban itu akan muncul suatu paham keberagamaan eklektis dan sikap keberagamaan yang lebih humanistik-universal. Agama masa depan yang akan muncul adalah agama yang mengedepankan usaha untuk menghargai persamaan nilai-nilai luhur pada setiap agama; sementara agama parokhial pada tingkat tertentu cenderung melihat perbedaannya dari agama lain karena kepentingan ideologis. Agama masa depan juga akan lebih menitikberatkan pada permasalahan-permasalahan lingkungan hidup, etika sosial, dan masa depan kemanusiaan, dengan mengandalkan pada kekuatan ilmu pengetahuan empiris dan kesadaran spiritual yang bersifat mistis. Karena di dalam agama masa depan yang didasarkan atas filsafat perennial, mereka tidak akan mengenal semacam beauty-contest dari doktrin-doktrin normatif. Karena sejatinya daya tahan agama seharusnya diletakkan pada kemampuannya menjawab masalah-masalah kemanusiaan, bukannya pada upaya keras menjaga kemurnian doktrin-doktrin keagamaan. Agama masa depan adalah sebuah agama yang akan dihayati sebagai sebuah wadah, ekspresi, dan manifestasi pencarian makna hidup manusia melalui aktualisasi kemanusiaannya. Bagi sekelompok orang, agama akan terbingkaikan dalam simbol-simbol baru yang lebih dihayati dan lebih cocok dengan pilihan dan tingkat peradabannya. Jika di masa lalu Kitab Suci dijadikan sumber justifikasi dan sumber otoritas untuk menentukan perilaku umat beragama secara dogmatis, maka di masa yang akan datang Kitab Suci akan mengalami pergeseran peran. Ia akan diposisikan sebagai mitra dialog hermeneutik. Pada akhirnya, manusia modern akan menyadari bahwa yang merekalah yang akan membentuk makna pada seluruh isi Kitab Suci.

Sebagai akhir dari tulisan ini, tentu masa depan agama dan bentuk agama yang bagaimana yang dibutuhkan di masa yang akan datang, atau apakah betul agama tidak dibutuhkan lagi oleh manusia modern, masih meninggalkan sebuah misteri besar. Pada akhirnya memang tidak ada yang baru dalam filsafat perennial. Mereka hanya menerjemahkan apa yang secara tradisional telah menjadi keyakinan seluruh umat manusia, yaitu adanya Yang Suci atau Yang Satu dalam seluruh manifestasi kehidupan manusia. Penerimaan adanya the common vision ini berarti menghubungkan kembali the many—dalam hal ini adalah realitas eksoteris agama-agama—kepada asalnya The One, Tuhan yang diberi berbagai macam nama oleh para pemeluknya, sejalan dengan perkembangan kebudayaan, kesadaran sosial dan kesadaran spiritual manusia. Pada dasarnya, agama yang diperlukan oleh manusia pada setiap zaman adalah agama yang bisa memberikan sebuah pencerahan hati dan akal; agama yang mampu membebaskan manusia dari dominasi dan pengaruh keduniawian yang menyebabkan tumpulnya kesadaran transendental manusia. Semoga kisah agama-agama di muka bumi dapat terjalin dengan mesra, saling menerima, dan penuh kasih persaudaraan. Inilah fitrah agama sesungguhnya; ketika agama tradisional tidak dapat menjalani fitrah sesungguhnya, maka mungkin di masa depan kisah indah itu dapat tetap terjalin dan terlihat dalam wajah baru sebuah agama masa depan. Semoga saja.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hidayat, Komaruddin dan M. Wahyudi Nafis. Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003).
  2. Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama (Bandung: Mizan, 2003).
  3. Coward, Harold. Pluralisme: Tantangan Bagi Agama-agama (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1989).
  4. Smith, Huston. Agama-agama Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991).

Written by Rolan Sihombing

December 26, 2008 at 6:40 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ditunggu anjutannya

    rudi

    January 10, 2009 at 8:33 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: